Erupsi Gunung Es PEN Film

- Selasa, 14 Desember 2021 | 20:09 WIB
Akhlis Suryapati (Istimewa)
Akhlis Suryapati (Istimewa)


Oleh Akhlis Suryapati.

Jakarta.Suaramerdeka.com,- Tidak salah teman yang pejabat negara itu comment: Langkah KPMP menyikapi pelaksanaan PEN Film, bukan sebuah letupan kecil (ungkapan saya dalam tulisan mengenai Skandal PEN Subsektor Film). Itu langkah besar, katanya.

Ada pun ‘mercon banting’ (metafor dalam tulisan saya berikutnya), walau bikin kaget sejenak, itu cukup menandai berlangsungnya erupsi (proses keluarnya lava dan gas) – dari perut Gunung Es (istilah Anggota Komisi III DPR RI) – yang menggumpal di perut bumi dan butuh pelepasan.

Jika metafora Gunung Es – bukannya Gunung Api (yang biasanya menyimpan lava) -- diperuntukkan bukan hanya untuk PEN Film, melainkan untuk perfilman dekade belakangan, akan nyambung juga. Penyelenggaraan perfilman nasional selama ini memang tidak membara seperti Gunung Api.

Baca Juga: Musica Studios dkk Seperti Perompak Menjerit Dirampok

Melainkan serasa nyaman-nyaman sejuk bagaikan Gunung Es; Ekosistem perfilman sudah bagus, kondusif, bangkit, meningkat, maju, menggeliat, mencatat rekor jumlah produksi, capaian angka penonton tak pernah terjadi dalam sejarah, banyaknya penghargaan internasional, perfilman adalah pencipta 0,45% lapangan kerja, pemberi kontribusi PDB 0,43%, dan sebagainya, sebagainya. Sampai Pandemi Covid-19 datang. 

Dalam tulisan sebelumnya – di tengah citra kehebatan perfilman, kemarin saya paparkan mengenai wabah ego sektoral dalam masyarakat perfilman sepanjang dua dekade, lebih awet dari pandemi Covid-19. Situasi itu terpelihara oleh pemerintah, melalui praktek politik ‘bagi-bagi permen dan belah bambu.’  

Baca Juga: Insan Musik Indonesia Memilih Menyimpan Peluru

Ada pun tentang erupsi ini, belum ketahuan apa yang bakal muncrat; lahar dingin atau lahar panas, semburan debu atau batu, bisa juga sekadar awan hitam lalu lenyap disapu angin. Yang agak terlihat ada tanda-tanda akal sehat, dalam suasana erupsi ini mulai muncul diskursus etika, wacana politik, kesadaran hukum, dan sebagainya, (dalam koridor penyelenggaraan perfilman).

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X