Profesi Advokat

- Sabtu, 18 Desember 2021 | 10:16 WIB
Wina Armada Sukardi (Doc Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Doc Pribadi)

Advokat itu seakan moster di sisi penjahat. Jadi gak boleh mendampingi klain di KPK. Gak ada urusan SOP dapat mengalahkan UU melanggar hukum atau tidak.

Malah, konon kabarnya, Kejaksaan juga bakal menerapkan aturan yang sama dengan KPK. Kalau di KPK boleh advokat tidak dapat mendampingi klain, kenapa kejaksaan gak boleh? Soalnya advokatnya gak perlu perlu ditanya, apalagi diminta pendapatnya , lebih lagi persetujuannya.

Advokat aparat penegak hukum kasta terbawah, gak perlu diperhatikan keberadaannya. Boleh diabaikan.
Advokat menurut UU Advokat, punya hak imunitas , khususnya waktu membela klainnya. Tapi dalam prakteknya, hak imunitas ini boro-boro dihormati, diakui oleh sesama aparat penegak hukum juga tidak.

Memang kalau hak imunitas yang diberikan oleh UU disingkirkan, para advokat mau apa? Bisa apa?

Baca Juga: Politik adalah Komedi Baru

Terkait ini tak tik dan strategi membela klain, dianggap omong kosong saja. Upaya semacam itu banyak dimaknai advokat “menhghalang-halangi” atau “menghambat” penegakkan hukum.

Jadi kalau advokat punya tak tik dan strategi membela klain, langsung dituding advokat melakukan kejahatan menghambat atau menghalangi penegakan hukum.
Pekerjaan advokat yang mungkin mendapat “dukungan” dari sesama aparat penegak hukum , paling jadi “markus” alias makelar kasus.

Menghubungi polisi, jalsa dan atau hakim dengan klain, dan mengatur berapa biaya yang ditentukan. Itu pun masih dengan satu kecurigaan, biaya-biaya itu sudah di mark up oleh advokat. Bukankah stigmanya mana ada advokat yang jujur. Itu capnya. 

Aneh bin ajaibnya, para advokat pun relatif tidak ada yang “protes,” konon lagi “berontak” pada keadaan seperti ini Para advokat lebih suka mengurus dan menambah jumlah anggota organisasinya. Memang sesama organisasi advokat sedang dibiarkan saling cakar.

Saat ini semakin banyak saja organisasi advokat. Mereka membuat semakin mudah menjadi advokat. Setidaknya saat ada 40 organisasi advokat, dan akan semakin banyak lagi. Makanya lantaran sibuk mempersoalkan urusan internal organisasi, advokat sulit membela sesama advokat yang sedang dikriminalkan. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X