Selayaknya Ulama Jaga Jarak dari Umara

- Kamis, 23 Desember 2021 | 21:41 WIB
Karyudi Sutajah Putra (suaramerdeka/dok)
Karyudi Sutajah Putra (suaramerdeka/dok)

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Siapa pun pemenang Muktamar ke-34 Nahdatul Ulama (NU), apakah petahana KH Said Aqil Siradj, ataukah penantangnya, KH Yahya Cholil Staquf, pemenang sesungguhnya adalah KH Abdurrahman Wahid.

Sebab, keduanya adalah "santri" Gus Dur. Artinya, Gus Dur telah berhasil mengkader keduanya, dan ketika Kiai Said atau Gus Yahya yang menang, seandaimya Gus Dur masih ada, mantan Ketua Umum PBNU tiga periode itu ikut merayakan pesta kemenangan.

Pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) malam ini berlangsung dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. Selain Kiai Said dan Gus Yahya, mantan Wakil Ketua Umum PBNU yang juga mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As'ad Ali juga maju sebagai calon ketua umum. Bisa jadi As'ad Ali akan menjadi "kuda hitam". Tapi bisa juga tidak. Ia sekadar memecah dukungan suara Gus Yahya.

Ihwal Kiai Said dan Gus Yahya sebagai "santri" Gus Dur dilontarkan Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 RI itu. Jadi, Kiai Said atau Gus Yahya yang nanti menang, pemenang sesungguhnya adalah mendiang Gus Dur.

Sebelum pemilihan, keduanya terlibat saling klaim dukungan suara terbanyak. Keduanya juga berebut sistem pemilihan. Kiai Said menghendaki sistem musyawarah untuk mufakat yang melibatkan 9 kiai senior dengan kriteria tertentu atau dikenal dengan istilah AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi), sedangkan Gus Yahya menghendaki voting atau pemungutan suara, one man one vote (satu orang satu suara).

Namun, jika dilihat dari fenomena di arena muktamar, tampaknya petahana akan terpilih kembali. Indikatornya, Laporan Pertanggungjawaban (LPj) Kiai Said diterima muktamirin.

Indikator kedua, selama dua periode memimpin NU, Kiai Said mencapai keberhasilan yang signifikan. Jadi, perlu energi ekstra bagi penantangnya untuk menumbangkan Kiai Said.

Yang pasti, meskipun sama-sama "santri" Gus Dur, tapi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KKN di Sela PEN Subsektor Film

Sabtu, 21 Mei 2022 | 12:54 WIB

Munajat Politik

Kamis, 19 Mei 2022 | 14:54 WIB

Menyoal Etik Bernegara (Bag.-4)

Kamis, 19 Mei 2022 | 13:50 WIB

Fiat Mirafiori Bapak

Kamis, 5 Mei 2022 | 08:57 WIB

Pulang

Selasa, 3 Mei 2022 | 16:08 WIB

Gocekan Syiar Di Antara Gol Tenar

Jumat, 29 April 2022 | 21:23 WIB

Oh, Perempuan yang Selalu Bersemanyam dalam Jiwaku

Jumat, 29 April 2022 | 16:05 WIB

Janji Christine Hakim

Kamis, 28 April 2022 | 12:27 WIB

Relakan, Atau ….Mati!!

Rabu, 27 April 2022 | 19:15 WIB

The Winner Take It All

Rabu, 27 April 2022 | 04:45 WIB

Dua Jam Jelang Berbuka Puasa dari Balik Kaca Mobil

Senin, 25 April 2022 | 22:01 WIB

Geger Tsamara Amany

Minggu, 24 April 2022 | 20:23 WIB

Perjumpaan dengan Tuhan dalam Puisi

Minggu, 24 April 2022 | 15:17 WIB

Save By The Bell

Minggu, 24 April 2022 | 05:16 WIB

Tiga Periode, Periode Ketiga

Sabtu, 23 April 2022 | 17:05 WIB

Kesiur Dari Timur

Sabtu, 23 April 2022 | 04:56 WIB
X