Bagai Pungguk Merindukan Nobel

- Kamis, 13 Januari 2022 | 07:36 WIB
Sihar Ramses Simatupang (Koleksi pribadi)
Sihar Ramses Simatupang (Koleksi pribadi)


Oleh: Sihar Ramses Simatupang

Jakarta.Suaramerdeka.com,- Pembicaraan tentang Penghargaan Nobel Kesusasteraan yang dikaitkan dengan sebuah nama di Indonesia untuk menandai pembukaan tahun 2022 ini sangatlah tidak menarik.

Jauh panggang dari api. Namanya si Dije. Isunya dia digadang-gadang Nobel sehingga membuat mual perut hingga ke uluhati. Selain karena segelintir usaha sekelompok orang atau komunitas tertentu saja yang mengajukan nama ini sebagai calon pemimpi Nobel, ya nama si Dije ini sontak menimbulkan reaksi satu negeri satu bangsa.

Baru di tingkat isu saja, publik sudah kebingungan. Publik tak hanya gagal menimang nama ini secara sosok, namun juga gagal untuk mengingat karyanya di titik mana diletakkan dalam peta dan sejarah kesusasteraan Indonesia.

Baca Juga: Sakramen Untuk Mas Remy Sylado

Tak ada gema diksi puisinya di sana. Tak ada kekuatan teks karyanya yang teruji. Sepanjang googling, isunya melulu hanya keluh ketidaklayakan karyanya, lomba dan undangan menulis berhadiah uang dan artikel pembahasan yang bernada menjilat.

Makanya, deretan nama penandatangan dari publik untuk menolak sosok Dije ini pun semakin marak dan ramai…

Nah, ini, yang diingat publik adalah beragam survei politik capres yang dia lakukan. Itu pun bukan politik ideologis, juga bukan politik moral khas gerakan mahasiswa. Bukan tindakan politik bernurani yang membuat si Dije semakin harum namanya.

Tokoh yang bermain dari rezim ke rezim ini, kerap hanya memperkeruh hitungan survei di last minutes jelang Pemilu hingga beberapa rezim terakhir bangsa ini. Bukan sosok negarawan dan sosok tokoh bangsa yang selama ini kita kenal dan kita puja. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Melalui Puisi Sangkan Paraning Dumadi

Rabu, 19 Januari 2022 | 17:16 WIB

Remy Sylado: Hadir atau Tersingkir

Kamis, 13 Januari 2022 | 17:37 WIB

Bagai Pungguk Merindukan Nobel

Kamis, 13 Januari 2022 | 07:36 WIB

Sakramen Untuk Mas Remy Sylado

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:24 WIB

Di Negeri Demokrasi Puisi (masih) Ditakuti (?)

Kamis, 6 Januari 2022 | 08:15 WIB

Kerapuhan, dan Ketabahan

Jumat, 31 Desember 2021 | 22:48 WIB

Tanggapan Atas Tulisan Tuan Kadri Sutan Bandaro

Selasa, 28 Desember 2021 | 10:05 WIB

Asnawi Mangkualam Bahar Adalah Kunci

Minggu, 26 Desember 2021 | 17:42 WIB

Selayaknya Ulama Jaga Jarak dari Umara

Kamis, 23 Desember 2021 | 21:41 WIB

Ironi Ayo Ke Bioskop PEN Film

Senin, 20 Desember 2021 | 16:56 WIB

Profesi Advokat

Sabtu, 18 Desember 2021 | 10:16 WIB

Kelompok Sakit Hati PENFilm

Kamis, 16 Desember 2021 | 13:22 WIB

Anomali Indonesia

Kamis, 16 Desember 2021 | 10:40 WIB

Erupsi Gunung Es PEN Film

Selasa, 14 Desember 2021 | 20:09 WIB
X