Perihal Pengheningan Puisi

- Jumat, 28 Januari 2022 | 10:35 WIB
Triyanto Triwikromo (Dok pribadi TT)
Triyanto Triwikromo (Dok pribadi TT)

Oleh Triyanto Triwikromo

Jakarta.Suaramerdeka.com,- BISAKAH penyair mengheningkan puisi? Tak bisa. Juga Benny Benke yang kian ingin mengheningkan puisi, dia harus berhadapan dengan gebalau suara kata.

Hampir semua kata, lebih-lebih yang merupakan ekspresi dari mahakarya arsitektur, kenangan tokoh-tokoh agung, perang yang tak kunjung henti, musim yang membunuh, mayat-mayat bergeletakan, atau sekadar jalan yang sunyi di Moskwa dan Berlin, justru berteriak, mengaduh, tak henti menggumam, berbisik, meracau, dan meledak.

Karena itulah, puisi oleh Octavio Paz dihubungkan dengan the other voice alias suara lain dan bukan keheningan lain.

Keheningan, meskipun bisa diikhtiarkan dalam puisi, boleh jadi adalah sesuatu yang nonsens. Bahkan jeda antarbait pun, tak bisa dimaknai sebagai keheningan.

Jeda antarbait kadang-kadang justru merupakan suarasuara tersembunyi. Tak pelak, puisi juga kerap dihubungkan dengan peledakan suara-suara yang dibisukan. Meminjam ungkapan Gayatri Spivak, puisi bisa juga merupakan suara sublatern.

Baca Juga: Kerapuhan, dan Ketabahan

Tentu sangat boleh penyair mengangankan kerja agung kreativitasnya sebagai upaya mengheningkan puisi.

Akan tetapi kerja semacam itu mirip dengan tindakan yang dilakukan oleh Sisifus. Sisifus, dalam teks yang ditulis oleh Albert Camus, bertolak dari mitologi Yunani, adalah sosok yang dikutuk untuk bekerja mendorong batu karang ke puncak terus-menerus, akibat batu karang itu jatuh kembali begitu sampai di puncak.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuda Hitam Pilpres 2024.

Jumat, 9 Desember 2022 | 02:22 WIB

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X