K-(ISLAMIC) POP: Gelombang Milenial Muslim Korea

- Rabu, 6 April 2022 | 10:43 WIB
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)

Oleh Akmal Nasery Basral

Sketsa Ramadhan

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- SEMALAM saya mendapat amanah sebagai khatib taraweh di Masjid Al Qalam, Citra Gran Cibubur, masjid yang nyaman, modern dan indah. Usai ibadah dalam perjalanan pulang ke rumah, masuk notifikasi dari salah satu akun YouTube yang saya ikuti.

“My First Medina”, begitu judul vlog terbaru unggahan akun Daud Kim, 30 tahun, seorang influencer, YouTuber dan selebgram muslim Korea terkemuka selain Ayana Moon; Song Bora a.k.a. Ola; Yongsworld ( Yong Lee-seong); Ujung Oppa ( Joong Hwang-woo); dan Kang Nayeon a.k.a. Safiya Kang, untuk menyebut beberapa nama. Tiba-tiba berpendar seutas tanya di benak saya, “Apakah sedang terjadi arus balik K-Pop ke arah berbeda?”

K(orea)-Pop adalah bagian dari tsunami kebudayaan hallyu (gelombang Korea) yang sedang menenggelamkan—sekaligus memukau--dunia. Lidah-lidah ombak hallyu lainnya adalah K-Drama (di Indonesia populer disebut ‘drakor’ singkatan dari ‘drama Korea’), K-Fashion, K-Movie, dan sebagainya

Atas pertanyaan saya apakah terjadi pembalikan arus K-Pop, jawaban singkatnya adalah "tidak". Atau lebih tepatnya "belum". Gelombang K-Pop masih terlalu deras untuk dihalangi apalagi ditandingi. Namun sebagai “riak-riak alternatif”, apa yang dilakukan para influencer milenial muslim Korea itu bolehlah dijuluki sebagai “ K-(Islamic) Pop" sambil menunggu ditemukannya istilah lebih tepat dan sesuai perkembangan berikutnya.

Bagi saya kemunculan Daud Kim dkk ibarat datangnya fajar sebuah era. Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika sampai Sensus 2005, Pemerintah Korea Selatan masih belum menyediakan kolom “Muslim” sebagai satu kategori jawaban untuk identitas agama dalam sensus.

Selain itu, saya memiliki ikatan personal tersendiri ketika di akhir Januari lalu merilis novel berjudul Sabai 선우 (baca: Sabai Sunwoo) yang beraroma Korea.

Pada novel terbitan MCL Publisher ini saya tampilkan selintas peran Choi Yong-kil, muslim Korea yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Hangul ketika dia belajar Islam di Madinah Gelar PhD diperolehnya dari Omdurman Islamic University (OIU), Sudan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X