Komedi Tragedi dalam Cerita BPI (bagian 4-Habis)

- Kamis, 7 April 2022 | 23:14 WIB
Melengkapi komedi tragedi dalam cerita Badan Perfilman Indonesia (BPI); Ini tulisan bagian ke-empat. Jika komedi, anggap hiburan ngabuburit ((Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI))
Melengkapi komedi tragedi dalam cerita Badan Perfilman Indonesia (BPI); Ini tulisan bagian ke-empat. Jika komedi, anggap hiburan ngabuburit ((Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI))

JAKARTA,suaramerdeka.com,- Melengkapi komedi tragedi dalam cerita Badan Perfilman Indonesia (BPI); Ini tulisan bagian ke-empat. Jika komedi, anggap hiburan ngabuburit. Jika tragedi, siapa tahu bisa menjadi bahan kontemplasi bulan puasa.

Tawa dan tangis, lucu  atau getir, itu permainan rasa.  Sudut pandang tulisan saya yang empiris personal verbal,  agar lebih sesuai dengan zaman millennial  kekinian. Yakni masa ketika daya kritik  langka sehingga mudah bikin kejang.

Para kritikus sibuk pasang status di whattapps atau facebook,  berupa pepesan permen yang  manis diemut  tanpa mengurangi lapar di perut.

Baiklah, pembaca yang budiman. Di media sosial masyarakat film,  ada eforia menyambut kepengurusan baru BPI pasca Kongres 25-29 Maret. Pidato-pidato dan tepuk tangan, kambing guling, deretan emoticon jempol, sticker-sticker sinergitas.

Produk dari mborong lima malam puluhan kamar Hotel Pullman, Central Park, Jakarta.  Tapi jangan menuduh BPI duitnya banyak sehingga bisa menyelenggarakan kongres lima hari di hotel mewah itu.

Kalau lihat kuitansi-kuitansi, pihak yang melakukan pembayaran kepada penerima adalah Ditjen Kemendikbud Ristek. Pemerintah. Negara.  Bukannya uang swasta mandiri seperti status BPI.

Nah soal status ini, juga ada unsur komedi tragedinya.  Di awal pembentukan BPI dulu, didiskursuskan bahwa dasar  hukum, legalitas, atau badan hukum BPI, adalah UU No 33 tahun 2009 tentang Perfilman. Undang-undang itu adalah legalitas yang sudah kuat. Lalu supaya lebih kuat, perlu pengesahan Presiden.

Sibuklah kala itu, Dirjen Nilai Budaya Seni Film (NBSF) Ukus Kuswara (almarhum) dengan Wamen Kemendikbud Windu Nuryanti. Mereka berusaha bagaimana caranya Presiden mengeluarkan surat keputusan tentang pembentukan BPI.

Lewat proses yang saling klaim dan saling sungkan antara Kemendikbud dan Kemenparekraf berebut domain dan kewenangan anggaran,  SK Presiden tentang BPI  akhirnya berhasil terbit.

Halaman:

Editor: Arief Sinaga

Tags

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X