Ketika Mantan Bawahan Jadi Boss

- Selasa, 12 April 2022 | 06:08 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

Dulu saya waktu mahasiswa tingkat awal, sudah diberi tanggung jawab menjadi penyiar Radio ARH untuk program Titik Temu dengan acara “Ilmu-ilmu Sosial.” Secara umum kala itu ARH termasuk kelompok lima besar Radio di Jakarta.

Kalau waktu itu Radio Prambos menempati peringkat nomer satu untuk segmen menengah atas, maka ARH juga menempati peringkat satu untuk segmen kaum bawah (waktu itu). Jadi, lumayan prestisius.

Nah, Manto waktu itu tak lebih dari seorang Office Boy  (OB) di ARH. Tugasnya membuat teh-kopi dan mengantarkannya kepada kami. Dia juga masih harus ikut bersih-bersih area studio. 

Meski begitu, semangat jiwanya untuk maju meluap-luap. Sembari menjalani tugasnya sebagai OB, Manto tetap sekolah di SMEA. Dan atas inisiatifnya sendiri , dia mulai belajar menjadi operator. Mula-mula cuma melihat-lihat saja. Kemudian minta diperbolehkan coba-coba sebentar, dan seterusnya, sampai mahir.

Selain secara teknis memahami penyiaran radio, dia juga mengamati dan mempelajari manajemen radio. Setelah mengetahui seluk beluk dunia penyiaran radio, dia mulai merintis peruntungan di usaha radio di Lampung. Mula-mula jadi perwakilan dari pemilik radio salah satu dari “boss” di ARH.

Lalu dia mulai berani mengelola studio kecil, sampai akhirnya dapat memiliki serta menguasai dua studio radio besar yang cukup berpengaruh di daerah Lampung. Dia juga menjajal berbagai usaha lainnya. Sang OB lantas menjelma menjadi Jurangan. 

Sekitar sepuluh atau 15 tahun silam, saya jumpa pertama kali lagi dengannya di Lampung. Dia langsung memeluk saya, dan meneteskan air mata tanda haru. Jelas ada rasa bangga dan syukur, dapat bertemu dengan saya, saat dirinya sudah mencapai sukses.

Saat itu, dia mengajak saya mengunjungi studio radionya serta mengajak melihat rumahnya. Dalam sklanya, hal itu menjadi simbol sukses.

Masih banyak contoh lainnya, yang saya alami sendiri, yang dulunya anak buah saya, bahkan dalam gradasi yang jauh di bawah saya, dapat menjelma menjadi orang sukses, melompati saya. Mereka juga menempati kedudukan sosial jauh lebih tinggi dibanding saya. 

Dunia selalu berubah, yang tak berubah hanya perubahan itu sendiri. Kondisi zaman dapat menghasilkan proses perubahan total. Dulu anak buah, sekarang mereka jadi kaum elite. Jadi “sultan.” Jadi Jurangan. Jadi big bos. Jadi manusia terpandang. Jadi orang penting. Termasuk boleh jadi orang yang sama sekali tidak pernah kita duga mampu mencapai titik itu. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB

Katimbang Nonton Bokep

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:16 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 17:13 WIB
X