Siapa Takut Rejeki Naik Haji

- Jumat, 15 April 2022 | 09:56 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi Wasa)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi Wasa)

Saya tertegun. Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan profesi atau pekerjaan saya. Dengan demikian uang ini dapat dipastikan bukan untuk mempengaruhi independensi saya.

Apalagi saya bukan pegawai negeri. Artinya, memang pemberian murni dari seorang sahabat. Maka saya putuskan untuk menerimanya. Alhamdullilah. Puji syukur.
Saya bertambah bersyukur lantaran ketika tas berisi uang itu diletakan di bagasi belakang mobil, tak ada yang mencurinya. Coba kalau dicuri, bukan saja saya mengalami kerugian besar, tapi juga saya tak pernah tahu apa isinya. 

Jumlah itu sama tepat dengan harga nominal biaya haji plus plus dari traver biro atau agen yang saya ikuti pada saat itu. 

Medio tahun 2001 saya dan isteri memutuskan untuk tahun itu juga daftar naik haji. Artinya, kalo daftar pada tahun itu, awal tahun depan berangkat hajinya. 

Uang ada, meskipun dalam hitungan kami waktu itu untuk naik haji, apalagi haji plus, sangat pas-pasan. Namun lantaran niat dan tekadnya sudah kuat dan bulat untuk beribadah, uang pas-pasan pun tak masalahlah bagi kami. Toh, kami ke Mekah bukan untuk belanja. 

Selanjutnya kami mencari traver biro atau agen perjalanan haji. Waktu itu belum ada ketentuan untuk naik haji harus mengikuti daftar tunggu seperti kiwari.

Kendati begitu, kami menghadapi kenyataan pahit. Baik haji biasa maupun haji plus, pada tahun itu, di semua traver biro atau agen haji, sudah sama sekali tidak menerima lagi calon jemaah haji.

Maknanya, kami tidak dapat berangkat naik haji tahun 2002. Kami harus mendaftar pada tahun depan, tahun 2002, untuk berangkat pada tahun 2003, itupun harus haji plus, karena haji biasa untuk berangkat tahun 2003 pun sudah fully booking. Semuanya sudah closed. Dengan begitu, kemungkinan naik haji tahun 2002, tertutup sudah. 

Ya sudah, kami memutuskan mengikutinya tahun depan. Disinilah kami menghadapi berbagai “keajaiban.” Kini kami dapat menyatakan, tekad dan niat untuk naik haji, telah merupakan setengah pemecahan dari persoalan pribadi naik haji.

Buktinya, manakala seluruh prosedur naik haji tahun itu sudah tertutup, tiba-tiba muncul harapan baru. Kakak saya memberitahu, ada fasilitas naik haji khusus, karena wakil presiden, waktu itu Hamzah Haz, juga mau naik haji lagi.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB

Puan Maharani dan The Last Samurai

Jumat, 23 September 2022 | 23:55 WIB

Mosaik Putri Diana (12): Konflik dengan Kesusilaan

Jumat, 23 September 2022 | 23:44 WIB

Mosaik Putri Diana (11): Paranoia Diana Semakin Parah

Jumat, 23 September 2022 | 09:26 WIB

Mosaik Putri Diana (9): Blusukan dan Jadi Incaran Pers

Jumat, 23 September 2022 | 09:08 WIB

Mosaik Putri Diana (7): Dalam Kandang Harimau Betina

Kamis, 22 September 2022 | 22:33 WIB

Mosaik Putri Diana (6): Buka-bukaan dengan Martin Bashir

Kamis, 22 September 2022 | 14:48 WIB
X