Kesiur Dari Timur

- Sabtu, 23 April 2022 | 04:56 WIB
Beno Siang Pamungkas (Arsip Pribadi Beno Siang Pamungkas)
Beno Siang Pamungkas (Arsip Pribadi Beno Siang Pamungkas)

Dengan memiliki pengetahuan (yang berasal dari pengalaman tersebut) akan menghindarkan karya kita dari kedangkalan dan bualan belaka. Saya akan mengawali “pembacaan” buku “Kesiur Dari Timur” (KDT) karya Timur Sinar Suprabana (TSS) seperti yang diajarkan oleh Achiar tersebut. 

Dalam proses kreatif dan hubungan pribadi yang berkelindan nyaris tidak pernah putus, saya berinteraksi dengan TSS sejak tahun 1989, semasa saya menjadi mahasiswa di IKIP Semarang (sekarang bernama Universitas Negeri Semarang/ Unnes), dan berlanjut sampai sekarang.

Satu hal menarik yang saya catat sebagai pembaca karya-karya TSS waktu itu, baik yang bertebaran dimuat di berbagai media massa cetak yang terbit di Semarang (Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Kartika, Bahari, Dharma).

Maupun di kota-kota lain seperti Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Buana, Republika, Media Indonesia, Jurnas, Kompas dan koran-koran dari Sumatra. Yang bisa saya akses dengan membeli atau menumpang membaca di agen koran dekat Pasar Johar adalah, sebagian besar puisi-puisi yang ditulis oleh TSS bertemakan cinta.

Tema yang sama muncul dalam sebagian besar karyanya yang termuat dalam buku-buku puisi yang ditulis bersama sejumlah penyair lain maupun dalam antologi puisi tunggal.

Buku puisi tunggalnya yang pertama dengan jelas menegaskan hal itu lewat judulnya: ”sihir Cinta” (2008, Dewan Kesenian Semarang). Pun demikian dengan antologi puisi tunggalnya yang kedua KDT yang akan saya bahas dalam tulisan berikut ini (2012, Penerbit Kata Kita). 

Memang ada sejumlah seniman yang secara khusus mengekspresikan sebagian besar karyanya dalam satu tema. Mayoritas lagu-lagu Didi Kempot bercerita tentang patah hati, sehingga sebelum meninggal bintang musik pop campursari tersebut dinobatkan sebagai “Godfather of Broken Heart’.

Perupa Semarang yang sering menampilkan obyek bebek dalam lukisan-lukisannya akhirnya lebih dikenal sebagai Agus Bebek. Namun dalam dunia kepenyairan hal semacam itu jarang ditemui.

Pilihan seorang penyair hanya menggarap tema cinta dalam sebagian besar karyanya, tentu bukannya tanpa risiko. Penulisnya membutuhkan seperangkat kemampuan mengolah ide agar karyanya tidak terjebak ke dalam pengulangan dan tetap bisa melahirkan puisi yang segar, dan bisa terus diapresisasi dengan menawarkan sesuatu yang baru kepada pembacanya.

Bila kondisi tersebut tidak tercapai akan pembaca tidak memperoleh pengalaman baru dalam mengapresiasi karya-karyanya dan menimbulkan rasa bosan. Dalam hal ini saya melihat TSS secara sadar memilih tema cinta dengan beragam problematikanya, karena ide tersebut sangat menarik dan menantang bagi dirinya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menimbang Gibran di Pilgub Jateng.

Jumat, 3 Februari 2023 | 06:35 WIB

Bela Negara, Bukan Sekadar Aksi Angkat Senjata

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:03 WIB

Bela Negara dan Persepsi Publik

Kamis, 2 Februari 2023 | 22:43 WIB

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB
X