Kesiur Dari Timur

- Sabtu, 23 April 2022 | 04:56 WIB
Beno Siang Pamungkas (Arsip Pribadi Beno Siang Pamungkas)
Beno Siang Pamungkas (Arsip Pribadi Beno Siang Pamungkas)

Sesuatu yang di depan nanti adalah tidak pasti, seperti halnya kematian yang akan memisahkan cinta antara dua hati yang tidak bisa diramalkan kapan bakal terjadi. Dengan nalarnya manusia adalah kehidupan yang sadar akan dirinya sendiri; dia memiliki kesadaran atas dirinya, atas sesamanya, atas masa lalunya, dan kemungkinan-kemungkinan masa depannya (Erich Fromm, Seni Mencintai, halaman 16).

Konsep sebagai makhluk yang bernalar terekspresikan dalam puisi ke-13 yang berjudul “sajak dari telapak tangan” (KDR, halaman 38-39):

Cahaya pun cemas
: aku berkemas

Menjauh dari kilau
Kerna butuh bisa tak silau

Melangkah
Seperti mengapung resah
Malam melengkapkan doa
Menyempurnakan rasa sia-sia 

Aku lirik dalam puisi tersebut punya kesadaran untuk berkemas dari kondisi yang tidak nyaman (cahaya pun cemas) dan menjauhi kilau kehidupan (butuh bisa tak silau) sekaligus menerima segala kondisi yang ada (lama: membuat diri sepenuhnya Fana) untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi, yang diharap oleh setiap insan terpilih yaitu: demi keabadian. 

Saya melihat sebagian besar puisi dalam KDR ini banyak berkutat dengan obyek cinta erotis antara dua insan. Seperti puisi ke-7, yang berjudul “sarapan di hotel” (halaman 21), misalnya.

Penyair mengisahkan sepasang kekasih yang menginap di sebuah hotel dan menghabiskan waktu dengan cara bercinta bahkan bersetubuh berjam-jam (dan percintaan berulang berjam-jam semalam) namun pengalaman cinta erotis ini bisa diolah menjadi sesuatu yang segar bahkan bisa menerbitkan senyum karena ide nakalnya, tanpa tergulir menjadi puisi seronok ala cerita Enny Arrow yang akan membuat pembacanya ereksi.

Dikisahkan, saat bangun pagi setelah semalam bercinta berjam-jam, sang kekasih meminta roti milik kekasihnya dengan syarat dia diijinkan menyantap langsung dari sela payudaranya (“hanya roti ini?”/ aku tersenyum, “ya. Hanya roti itu./ tapi taruh di sela payudaramu./ biar kuiris, kupotong, kusantap langsung dari situ.”// kaupun tergelak/ tubuh telanjangmu kaubaringkan/ telentang/ di ranjang// kumulai sarapanku/ perlahan/ tak tergesa/ lembut// tanpa berkata-kata// ).

Keberhasilan puisi ini saya kira juga terletak pada kecerdasan penyairnya untuk membawa persoalan syahwati yang banal dan pada kelokan alenia terakhir dikunci menjadi pertanyaan yang menggantung dan membuat tertegun:

Pagi pun berurai air mata
Entah mengapa

Mungkin mendadak terlampau bahagia
Namun bisa juga kerna tiba-tiba menestapa

(3)

​Dalam catatan akhir untuk kumpulan puisi tunggal TSS yang berjudul “sihir Cinta” (Dewan Kesenian Semarang, 2008) Martin Suryajaya menulis: Berpuisi, pada hari ini, adalah mengerti bagaimana berhadap-hadapan dengan “luka” ini, dengan ketidakmungkinan berbahasa yang mendorong kita untuk terus berbahasa ini (halaman 168).

Dengan kata lain, puisi hanya mungkin ketika ia tidak mungkin. Lebih lanjut Martin menyodorkan pertanyaan, tapi apa yang mungkin dan tak mungkin – dan apa itu puisi? Beban seorang penyair menjadi berat karena dengan bahasa yang terbatas dia harus membahasakan “luka” bathinnya yang tidak terbatas. 

Apakah puisi-puisi TSS dalam KDT ini sudah mampu mengemban tanggung jawab tersebut? Puisi-puisi mana saja dari 84 puisi tersebut yang layak disebut puisi? Terlebih bila memakai definisi Emily Dickinson (1830-1886) sebagai berikut:

“Puisi adalah jika saya membaca sebuah buku dan buku itu membuat saya sedemikian menggigil sehingga tiada api yang mampu menghangatkannya saya segera mengetahui bahwa yang saya baca itu adalah puisi. Ketika saya merasa secara fisik bahwa ubun-ubun saya dicomot, saya tahu itulah puisi. Adakah sesuatu yang lain seperti itu?” 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB

Katimbang Nonton Bokep

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:16 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 17:13 WIB

Menyambut Brutus-Brutus PSSI

Jumat, 30 Desember 2022 | 01:17 WIB
X