Dinasti Saudagar Perfilman

- Jumat, 3 Juni 2022 | 18:09 WIB
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)

Raam Punjabi, Gobind Punjabi, dan Dhamoo Punjabi, adalah anak-anak dari pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dengan Dhanibhai Punjabi, imigran asal India semasa negara itu tercabik paska kemerdekaannya tahun 1947 yang kemudian terpecah; melahirkan Pakistan yang mayoritas Islam, sementara India sendiri mayoritas Hindu.

Di India,  Punjabi dikenal sebagai nama suku bangsa atau kelompok etnik, berasal dari wilayah Punjab yang berada di perbatasan India-Pakistan. Waktu konflik, suku bangsa ini  posisinya serba salah;  tidak tegas apakah gabung dengan India atau Pakistan.

Posisi politik serba salah itu – tatkala negara benar-benar terpecah dan Punjab tercabik oleh dua negara,  membuat kurang nyaman banyak orang, sehingga mereka berhamburan imigrasi ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia.

Di Surabaya Jethmal Tolaram Punjabi dengan Dhanibhai Punjabi menemukan ‘dunia baru’ – mereka kemudian dikenal sebagai juragan tekstil. 

Catatan awal ini sekadar menggambarkan fakta bahwa industri perfilman di Indonesia tumbuh dan berkembang dalam tradisi sistem dinasti saudagar. Bukan dinasti produser – dalam pengertian sebagai orang yang memproduksi film, atau orang yang membutat film.

Apa yang sukses dijalankan MD Pictures sekarang ini adalah memperdagangkan film, selain hasil produksinya sendiri, juga produksi perusahaan-perusahaan lain. 

Peran dominan orang atau perusahaan yang memperdagangkan film dalam jumlah besar – untuk manandai sistem dinasti saudagar tadi –  dalam industri perfilman di Indonesia, sebenarnya juga terlihat saat perfilman nasional menemukan pijakan industrinya – paska era Hindia-Belanda dan zaman pendudukan Jepang – yaitu melalui tampilnya Djamaluddin Malik, yang sekarang  disebut sebagai Bapak Industri Perfilman, menyertai Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Indonesia dan Soerjo Sumanto sebagai Bapak Artis Indonesia.

Djamaluddin Malik, adalah saudagar yang juga bangsawan keturunan Raja Pagaruyung Tanah Datar. Setelah bekerja pada perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij, membangun perusahaan bernama Djamaluddin Malik Concern, membeli film-film India untuk diperdagangkan  di Indonesia.

Sampai kemudian Djamaluddin membeli kelompok sandiwara tonil, mendirikan Persari sebagai ‘markas besar’ artis, berikutnya baru Persari menjadi perusahaan film, mengimbangi perusahaan film yang didirikannya bersama Usmar Ismail. Perfini untuk film-film sesuai selera Usmar Ismail (idealis, sebutlah begitu), Persari untuk film-film komersial dan untuk perdagangan filmnya.

Sayangnya, dinasti saudagar film yang dibangun Djamaluddin Malik tidak berlanjut – setidaknya kian ke sini semakin pudar. Barangkali karena pewarisnya tidak sepenuhnya berjiwa saudagar, melainkan lebih berjiwa artis. Namanya Camelia Malik.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X