Agar Beban Puisi Berkurang

- Sabtu, 4 Juni 2022 | 09:49 WIB
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Menulis puisi adalah pekerjaan sia-sia dan tidak berguna, kecuali…

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Sesungguhnya menulis puisi, sedari dulu, bisa dilakukan oleh siapapun. Hanya saja, ruang untuk publikasinya amat terbatas. Maka di era surat kabar cetak, puisi akan diseleksi dulu oleh redaktur, sebelum dipublikasikan di ruang yang terbatas itu.

Sebelum ditemukan mesin cetak, puisi mungkin dituliskan pada sabak, lempengan batu, helaian kertas atau kulit binatang, dan pasti, puisi yang dimuatnya adalah yang terbaik menurut mereka. Sebelumnya lagi, kiranya puisi di-gorowok-kan keras-keras sebagai bentuk protes, atau disenandungkan sebagai doa atau bujuk rayu.

Di jaman Nabi Muhammad, para penulis puisi yang disebut tukang syi-ir atau syair, kemudian lahir istilah penyair di kita, sebagian dari mereka malah menjelma nabi palsu, dengan membuat ayat-ayat palsu, guna menandingi keluhuran ayat-ayat Quran yang berasal dari wahyu langitan.

Kini pun, tidak sedikit penyair yang menjelma nabi palsu, yaitu yang merasa ‘hebat’ dikarenakan pandey menulis puisi, dan punya pengikut, dan pengikutnya itu bisa tunduk pada sabda yang diucapkannya, dikarenakan, siapa yang patuh menjadi pengikut, maka beroleh sebengol dua berkah.

Ketika mesin cetak menggunakan logam dirancang oleh Gutenberg sekira tahun 1.400-an, puisi mendapatkan ruang untuk dibukukan. Tapi, penerbit serius tetap akan menyeleksi puisi yang layak terbit. Jika ingin menerbitkan buku sendiri, boleh saja, asal punya dana.

Di era surat kabar dan penerbitan buku menggunakan mesin cetak offset, puisi adalah amanat yang terseleksi, yang dilahirkan oleh para pemikir atau filsuf. Maka puisi di era ini, seolah-olah hanya ditulis oleh sedikit orang. Ada sih yang menulis, tapi dikecam oleh penyair Chairil Anwar: Yang bukan penyair, dilarang ikut bagian.

Menulis puisi adalah pekerjaan sia-sia dan tidak berguna, kecuali…
Lanjutkan membaca: https://jurdik.id/2022/06/03/agar-beban-puisi-berkiurang/

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X