Menyoal Etik Berbangsa (Bag 6. Habis)

- Rabu, 8 Juni 2022 | 11:58 WIB
Zainal Bintang (Arsip Pribadi Zainal Bintang)
Zainal Bintang (Arsip Pribadi Zainal Bintang)

Oleh : Zainal Bintang

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Juni adalah bulan yang hari-harinya penuh kenangan dan catatan penting sejarah bangsa. Hari lahir Pancasila sebagai ideologi negarapun ditetapkan bulan Juni.

Hari lahir Bung Karno, presiden pertama Indonesia jatuh pada tanggal 6 Juni 1901.Pun hari lahir Pak Harto, presiden kedua  tanggal 8 Juni 1921. Mendahului kedatangan bulan Juni, jagat politik telah dipenuhi dengan berbagai sepak terjang politis para aktor politik memoles diri. Sibuk bercitra ria. Mereka seenaknya membiarkan berbagai kehidmatan jejak sejarah berlalu tanpa bekas; menjadi deru campur debu.

Pancasila, Bung Karno dan Pak Harto adalah “monumen” yang terukir pada batang tubuh bangsa ini. Pancasila adalah mercusuar pemandu utama arah perjalanan perahu besar bernama Indonesia mengarungi samudera luas.

Bung Karno dan Pak Harto adalah dua sosok pemimpin bangsa berkelas dan berkualitas tinggi dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa. Kedua tokoh bangsa itu berkualifikasi “strong leader”. Keduanya tampil di dalam badai sejarah, dan berhasil mengatasinya. 

Bung Karno bersama adalah proklamator yang memerdekakan bangsa ini ditengah serba kekurangan di depan ancaman mulut meriam dan sangkur penjajah Belanda, Jepang maupun sekutu (1945).

Pak Harto dengan kepemimpinannya yang prima berhasil menyelamatkan bangsa yang kritis dari prahara perpecahan. Berpangkal pada penculikan dan pembunuhan enam orang Jenderal aktif TNI-AD dan seorang perwira menengah (1965).

Keduanya, Bung Karno dan Pak Harto mampu mengatasi ancaman kehancuran bangsa di tengah situasi keos itu.  Menunjukkan kapasitas “strong leader”. Keduanya pada eranya berhasil memulihkan stabilitas. Membuka jalan lebar untuk persatuan, kesatuan dan pembangunan.

Tingginya tuntutan akan hadirnya karakter “strong leader” pemimpin bangsa yang tumbuh saat ini, menjadi indikasi kerinduan hati seluruh bangsa Indonesia, yang terpapar oleh rangkaian kekecewaan akibat lemahnya kualitas kepemimpinan era reformasi.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X