Petrus

- Jumat, 10 Juni 2022 | 10:30 WIB
Alumni SMID Semarang berhimpun di Jakarta. (SMID Semarang)
Alumni SMID Semarang berhimpun di Jakarta. (SMID Semarang)

Bayangkan, andai saja saat itu, gagal ginjal sudah menyergapnya. Dipastikan jebolan fakuktas Sastra Undip ini sudah mampus. Kaput riwayatnya.

Tapi kehidupan, entah bagaimana caranya, memilih menjaga kehidupannya, untuk kemudian menyaksikan sejumlah kawan seperjuangannya hilang entah ke mana hingga sekarang. Dan para penculiknya, saat ini, asyik masyuk dengan kawan-kawan seperjuangannya di istana. Alangkah indahnya.

Dan bahtera perjuangan memaksanya mengalihkan kurusetranya dalam ranah yang berbeda. Mendirikan KPCDI yang diatargetkan dalam lima tahun ke depan -- jika umur masik berpihak di sisinya -- dapat menyaksikan KPCDI berdiri di 33 propinsi di Indonesia.

Kemudian meng-goalkan sejumlah program, diantaranya pasien cuci darah harus mendapatkan prioritas penerima vaksin Covid-19 juga booster 1 dan 2, misalnya.

"Hal ini harus dilakukan mengingat pasien gagal ginjal kronik adalah bagian dari populasi yang paling rentan terpapar virus corona," kata Petrus di sebuah Cafe di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta, barubaru ini.

Bahkan dalam data terkini KPCDI, di Indonesia saja, angka pasien yang menderita gagal ginjal tahap akhir menyentuh angka 250 ribu orang. Angka tersebut masih akan terus bertambah jika kampanye ke pelbagai pihak tidak dilakukan secara masif tentang deteksi dini kesehatan ginjal.

Petrus, Aan Rusdianto, Ferry, Doddy Ardiansya, Nurul dan Ari Trismana (Bb)

Petrus, mentor saya selama bersemuka dengan rezim Orba, saat ini pendengarannya sudah nyaris budeg. Akibat komplikasi terlalu banyak obat gagal ginjal yang diasupnya. Dia sekarang lebih banyak membaca gerak bibir lawan bicaranya, layaknya anggota #FBI dan #CIA membaca gerak bibir lawan dan kawan politiknya.

Saya harus berbicara dengan artikulasi jelas, kecepatan bicara yang diperlambat, dan intonasi yang sedikit meninggi, agar Petrus menangkap maksud saya. Padahal dulu, saat kami demo di Semarang, Jakarta, Solo hingga Ngawi tidak ada orasi yang lebih menggelegar selain orasi yang disampaikan Petrus....tapi kini, bicara berlahan saja, staminanya entah pergi ke mana.

Dan buah perjuangannya turut melawan Orba...nyaris tidak ada ...dia masih menjelma manusia sahaja.....jualan buku untuk menyambung hidupnya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Terkini

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB
X