Astaga Naga Naga Naga

- Sabtu, 11 Juni 2022 | 10:34 WIB
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)

Oleh Akhlis Suryapati

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Kemarin tanggal 8 Juni hadir di acara premiere film Naga Naga Naga (produksi Deddy Mizwar, produser Zairin Zain, eksekutif produser Manoj Punjabi). Tiga jabatan itu tercantum pada credit title awal. Seusai nonton, aktor El Manik bertanya ke saya:  ”Sekarang bagaimana sih sistem manajemen kerjasama produksi dan tata edar film?”

Dalam suasana selfie-selfie habis nonton film Naga Naga Naga itu pula, ketua asosiasi bioskop Djonny Syafruddin ngajak diskusi tentang produksi dan tata edar film. Topik  utamanya bersumber dari perkara diturunkannya film KKN Di Desa Penari dari  layar jaringan bioskop Cinepolis di saat minat penonton masih banyak, lalu asosiasi bioskop kena getahnya dituduh tidak berpihak pada film Indonesia.

Beberapa hari sebelumnya dalam pertemuan dengan sejumlah pihak pengusaha bioskop, ada curhat ke saya: “Bioskop selama ini nggak dianggep, Mas. Malah disalahkan melulu. Padahal kami selalu menjadi ujung tombak membangkitkan film Indonesia,” katanya. “Sepanjang pandemi covid, kami terus berjuang agar tidak gulung tikar, tanpa ada pemasukan, nggak ada tuh  yang ikut memikirkan. Apalagi ada semacam stimulus … bantuan kepada insan film terdampak  pandemi…..”

Astaga naga naga naga! 

Informasi yang agak aktual dan faktual dalam tulisan ini, adalah sedang berlangsungnya gesekan antar kelompok kepentingan (stakeholder) dalam industri  perfilman nasional. Terdengar suara dengan nada tinggi: “Siapa, bagaimana, kenapa, bagaimana, apa-apaan pula sehingga  ‘bertindak dan mengatur-atur distribusi film’ (di bioskop)? Apa dasarnya, undang-undangnya, peraturan turunannya? 

Lalu terdengar teriakan: “Revisi saja  undang-undang perfilman!”

Yang lain balas teriak: “Berapa lama? Tiga tahun, lima tahun?”

Tahukah, Sampeyan. Di saat berlangsung kekosongan hukum, di mana regulasi diberlakukan ngambang, saat itulah anarkisme berlangsung. Ketidakberaturan. Dalam anarki, kekuatan modal menjadi paling diuntungkan sementara ekosistem porak-poranda. Bahkan dalam  perang seperti Rusia - Ukraina, yang untung ya pialang senjata, calo pengungsi, jasa security atau tantara bayaran – sementara rakyat adalah para korban bergelimpangan. Bullshit itu perdamaian dunia, demokrasi, PBB!”

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hari Asyura dan Tafsir-Tafsirnya

Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Omerta

Minggu, 7 Agustus 2022 | 21:05 WIB

Kematian Pakar dan Penyair

Kamis, 4 Agustus 2022 | 10:12 WIB

Tumbal

Kamis, 4 Agustus 2022 | 06:44 WIB

Sketsa Sosial; Balada Si Budi.

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:51 WIB

Narasumber Pers

Kamis, 28 Juli 2022 | 12:38 WIB

Kekayaan Intelektual Baim

Rabu, 27 Juli 2022 | 14:41 WIB

Dor! Pentingnya Belajar Mengarang.

Sabtu, 23 Juli 2022 | 18:03 WIB

Drama Inkonstitusionil Bersyarat

Sabtu, 23 Juli 2022 | 13:24 WIB

Indonesia Krisis, Jakarta Tidak

Sabtu, 23 Juli 2022 | 06:06 WIB

Leumuria

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:30 WIB

Bohong

Jumat, 15 Juli 2022 | 11:32 WIB

Pengamat Telematika:Bukan Solusi Terbaik

Rabu, 13 Juli 2022 | 09:01 WIB

Artikel Edukasi: Tips Menyiapkan Dana Haji

Selasa, 12 Juli 2022 | 18:00 WIB
X