Astaga Naga Naga Naga

- Sabtu, 11 Juni 2022 | 10:34 WIB
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)

Astaga Naga Naga Naga!

Dalam tulisan saya Titik Balik Oligarki Perfilman (30 Mei 2022), terpaparkan suatu gejala perubahan ‘kekuasaan sekelompok kecil orang berbasis kapital yang mengontrol dan mengendalikan industri perfilman.’  Gelagat itu, dasar telaahnya adalah eforia sukses sejumlah film Indonesia melalui MD Pictures yang diikuti oleh melejitnya nilai saham perusahaan itu, hingga tindakan  right issue (penambahan penerbitan saham).

Di bawah sekam eforia, gesekan antar kekuatan oligarki menjadi wajah klasik industri perfilman nasional.  Oligarki Lama atau Oligarki Pendahulu  berhadapan dengan Oligarki Baru atau Oligarki Eforia – yang sesungguhnya (Lama juga) bukan ksatria piningit pendatang baru karena berasal dari dinasti saudagar perfilman yang punya akar tulang kesejarahan Panjang dalam indutri perfilman nasional (Dinasti Saudagar Perfilman, 3 Juni 2022). 

Gesekan keluarga oligarki, kalau dalam film The Godfather bisa digambarkan sebagai awal dari sebuah intrik, sindir-menyindir, lalu ancam-mengancam, persekongkolan, pemufakatan, penyalagunaan fungsi birokrasi, manipulasi regulasi, dan – kalau dalam film The Godfather lho ya -- bisa memicu perang terbuka di mana teman dan lawan, sahabat  dan musuh, keluarga dan tetangga, bahkan anak, istri, menantu, bisa tercarut-marut dalam lingkaran konflik, yang ujungnya membuat keluarga oligarki Don Corleone menjadi novel serem di tangan Mario Puzo (1969) dan film mencekam di tangan Francis Ford Copolla (1972).

Astaga Naga Naga Naga!

Baiklah.  Kembali ke jurnalisme liputan premiere film Naga Naga Naga saja. Ada lho pimpinan-pimpinan partai politik hadir. Di antaranya ada yang hari-hari ini sudah kampanye ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Ada pula pengantar film berupa orasi Deddy Mizwar yang narasinya berkait dengan ideologi Nasionalisme dan Pancasila. 

Sedangkan film Naga Naga Naga itu sendiri memang bukan genre ala KKN Di Desa Penari, Makmum 2, atau Kukira Kau Rumah – film-film laris itu --  melainkan semacam komedi satire yang sarat dengan dialog-dialog verbal mengenai ironi politik, ketimpangan sosial, sarkasme ideologi (generasi) kekinian.

Sehabis premiere itu, selfea-selfie, puji-sanjung dan ucapan selamat, mengalir ke para pembuat film, disertai doa: Semoga Naga Naga Naga menyusul sukses film-film yang penontonnya mencapai jutaan orang itu.     

Di perbincangan para pengamat dan kritikus yang nggak ingin didengar orang banyak – apalagi didengar para pembuat film Naga Naga Naga – ulasan dan komentar tentunya ada yang berbeda.  Namun semua  tidaklah penting untuk dikutip.  Apalagi kalau kita ingin tercantum sebagai bagian dari pejuang eksosistem kondusif perfilman nasional hari-hari ini. Demikian. 

(Jakarta, 11 Juli 2022

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB
X