Kegagalan komunikasi yang berakibat maut

- Jumat, 24 Juni 2022 | 11:47 WIB

Oleh:Widia Febriana,S Fil.I

Sebuah contoh tentang bagaimana pengetahuan tidak mencapai keharmonisan karena kegagalan komunikasi. Pada abad pertengahan, ada sebuah masalah antara pengetahuan dan politik yang dampaknya terus didengung-dengungkan sampai sekarang. Seseorang dengan pengetahuan yang besar telah berkomunikasi dengan sangat buruk pada penguasa dan masyarakat yang seharusnya ia anugerahi dengan senjata baru untuk menjamin kelangsungan hidup mereka.

Alkisah ada seorang ilmuan tua, Galileo Galilei, yang telah menemukan dan mengkonfirmasi paradigma heliosentrisme pada dunia yang didominasi oleh paham geosentrisme. Paham ini sangat menguntungkan bagi eksistensi manusia. Berabad-abad manusia menganggap kalau diri mereka hidup di tempat yang hina, yaitu bumi. Ya, bumi adalah pusat alam semesta dan pusat alam semesta adalah sebuah dunia yang buruk. Neraka ada di pusat Bumi, semakin jauh kita dari pusat alam semesta, semakin baik hidup kita. Langit ada di pinggir alam semesta dan kehidupan langit adalah kehidupan yang sangat baik. Fakta yang dibawa heliosentrisme kalau bumi bukanlah pusat alam semesta akan membuat kita merasa lebih nyaman. Neraka ada di pusat alam semesta dan matahari adalah pusat alam semesta, maka kita berarti sangat jauh dari neraka. Ini lebih nyaman daripada menyadari bahwa neraka ada di bawah telapak kaki kita.

Untuk memasarkan gagasannya, ia menciptakan buku Dialogue Concerning the Two Chief World Systems. Di dalam buku ini, ia membuat tiga karakter: Salviati, Sagredo, dan Simplicio. Salviati adalah pendukung heliosentrisme, Sagredo adalah moderator, dan Simplicio adalah pendukung geosentrisme. Tetapi dialog yang terjadi tidaklah senetral yang diharapkan. Simplicio digambarkan sebagai orang keras kepala yang bodoh dan bahkan tak punya otak. Argumen Simplicio disanggah secara sistematis oleh Salviati dan diamini oleh Sagredo. Pada akhirnya, Simplicio ditertawakan dan diejek-ejek oleh Salviati dan Sagredo. Buku ini kemudian dibawakan ke hadapan Paus VIII alias Maffeo Barberini. Sebelum menjadi Paus, Barberini dan Galileo adalah sahabat akrab. Mereka sering berdiskusi tentang geosentrisme dan heliosentrisme. Membaca buku ini, Paus Urban VIII menjadi sangat berang. Jelas saja, argumen-argumen yang diajukan Simplicio adalah argumen-argumen yang telah berulang kali disampaikan dirinya kepada Galileo, beberapa bahkan kutipan kata demi kata dari yang pernah ia ucapkan ke Galileo dalam iklim yang sangat bersahabat. Tak ayal, Paus Urban VIII menyamakan dirinya dengan Simplicio dan menganggap sahabatnya itu telah menghinanya habis-habisan. Maka ditangkaplah Galileo oleh Paus Urban VIII dan dihukum untuk menarik kembali pernyataannya dan diancam hukuman mati jika kembali lagi membahas-bahas tentang heliosentrisme.

Gambaran di atas menunjukkan bagaimana sesuatu yang baik tetapi dikomunikasikan dengan buruk justru berdampak fatal. Galileo akhirnya terlindas oleh politik karena pengetahuannya disampaikan dengan cara yang tidak bijak. Nasib Galileo masih lebih beruntung dibandingkan Giordano Bruno. Bruno dihukum mati karena menyalahi komitmennya pada muridnya, Giovanni Mocenigo. Ketimbang mengajarinya tentang metode mnemonik, Bruno mengajari Mocenigo hal-hal yang tidak relevan dan bertentangan dengan keyakinan Mocegino saat itu. Mocenigo akhirnya melaporkan Bruno pada Inkuisisi dan Bruno pun akhirnya dihukum mati. Kali ini, Bruno gagal karena mengkomunikasikan keyakinannya bukan pada tempatnya. Ini juga merupakan masalah komunikasi.

Nasib Galileo dan Bruno kontras dengan nasib Kopernikus, padahal ia adalah yang pertama membicarakan tentang heliosentris. Kopernikus tidak diapa-apakan. Ia hidup tenang dan nyaman. Kopernikus adalah seorang penasihat medis gereja dan ia sangat menjaga hubungan baik dengan gereja. Ia berkirim surat dengan Paus Paulus III untuk menjelaskan teorinya dengan sopan dan paus tidak memiliki masalah dengan itu. Konflik yang ia hadapi dalam hidup justru dengan sesama rekan ilmuannya yang mempertahankan geosentris.

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Potensi Domba Lokal Lereng Barat Gunung Slamet

Sabtu, 4 Februari 2023 | 14:19 WIB

Menimbang Gibran di Pilgub Jateng.

Jumat, 3 Februari 2023 | 06:35 WIB

Bela Negara, Bukan Sekadar Aksi Angkat Senjata

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:03 WIB

Bela Negara dan Persepsi Publik

Kamis, 2 Februari 2023 | 22:43 WIB

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB
X