Pseudo-Sains?

- Selasa, 12 Juli 2022 | 11:03 WIB
Iksaka Banu (Koleksi Pribadi Iksaka Banu )
Iksaka Banu (Koleksi Pribadi Iksaka Banu )

Oleh Iksaka Banu

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Saya pernah membaca sebuah artikel, sayang sekali saya lupa sumbernya, mengenai tiga bahaya yang harus diwaspadai saat garis batas pemisah antara sains dan pseudo-sains lenyap. Kalau dituliskan ulang secara sederhana, kira-kira begini:

Bahaya pertama, dari sisi filosofis: Isu-isu dalam sains (yang baik) seharusnya mengarah pada sifat kebenaran penemuan yang bisa dibuktikan dengan pengukuran. Hal ini jarang sekali hadir secara utuh dalam pseudo-sains. Kalimat “sudah terbukti”, dan hitungan-hitungan “ilmiah” yang bertebaran dalam buku-buku pseudo-sains barangkali ampuh menaklukkan orang awam, tetapi lemah secara ilmiah.

Bahaya kedua adalah tanggung jawab sosial: Masyarakat kita menghabiskan pajak dalam jumlah besar untuk penelitian ilmiah. Tentu sangat penting memahami dengan baik apakah uang kita lari sia-sia untuk penelitian tidak berdasar? Misalnya: Haruskah Departemen Pertahanan mendanai studi tentang dunia gaib? Bagaimana mempertanggung jawabkan dana dan hasil penemuan yang sifatnya absurd itu?

Bukan berarti tidak mungkin diadakan, tetapi tentunya dana besar akan lebih masuk akal bila digunakan untuk meneliti sesuatu yang sifatnya terukur.

Ketiga, dalam hal etis, pseudo-sains bisa mengancam keselamatan banyak orang. Misalnya, para pengikut antivaksin yang mempercayakan nasib mereka pada pengobatan eksotis dibandingkan mengikuti program imunisasi, sehingga benteng kesehatan sosial suatu daerah menjadi rentan wabah pandemic seperti yang kita alami belum lama ini.

Lalu, mengapa pseudo-sains banyak dipercaya, bahkan didukung penyebarannya oleh portal dunia maya, dan penerbit (media cetak)? Jawaban singkatnya adalah: karena murah, praktis, serta gampang dipahami. Kemudian, lantaran gampang dipahami, tentu gampang pula dijual.

Mengatakan bahwa “telah terjadi suatu konspirasi internasional” atau “sejarah tertentu telah disembunyikan secara jahat”’ tentu lebih murah, mudah dipahami, serta lebih sensasional dibandingkan membuat suatu penelitian cermat, mengapa (misalnya) ada koin beraksara Arab di beberapa daerah kerajaan Majapahit yang saat itu masih memeluk Hindu.

Tantangan besar bagi para ilmuwan hari ini, seperti yang disebutkan dalam sebuah wawancara oleh Tom Nichols, penulis “Matinya Kepakaran”, barangkali adalah, menyampaikan temuan ilmiah (dan rumit) mereka menjadi sesuatu yang murah, mudah dipahami, dan dipercaya masyarakat.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X