Chairil

- Selasa, 12 Juli 2022 | 16:48 WIB
Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Chairil Anwar  (Tangkapan Layar )
Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Chairil Anwar (Tangkapan Layar )

Oleh Doddi Ahmad Fauji.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Bukan karena ia mati muda, jika Chairil Anwar ditahbiskan sebagai salah satu ikon atau bolehlah kita menyebutnya dengan sarkastis, Chairil adalah Maskot dari para penyair Indonesia, namun karena memang pencapaian estetika puisi Chairil, berbeda dan lebih bertenaga dari puisi-puisi gubahan penyair sebelumnya, yaitu dari generasi Pujangga Baru dengan tokohnya yang paling kuat adalah Sutan Takdir Alisjahbana.

Setelah Chairil, beberapa penyair kuat yang lahir, tampak menjajaki tapak estetika yang pernah ditorehkan Chairil. Sebut misalnya Rendra, Goenawan Mohammad, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, Toeti Herati Nurhadi, Isma Sawitri, dll. adalah para penyair yang turut diwarnai oleh pola ucap Chairil yang bebas, lugas, dan bertenaga itu.

Penyair Pasca Chairil yang memiliki pola ucap berbeda jauh, terasa pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, kemudian Afrizal Malna. Namun meski disebut beda jauh, jejak sintaksis (larik) dalam puisi-puisi SCB dan Afrizal juga, tampak seperti menapatilasi jejak Chairil, namun keduanya melangkah lebih jauh dari Rendra, Goenawan, Sapardi, Toeti, dll.

Tapi di era sosmed, terutama setelah boomingnya madingpret (majalah dinding pribadi internet, facebook), berbondong-bondong orang menulis puisi. Tentu sangat syah dan boleh-boleh saja. Namun akan lebih menarik, tampak cerdas, jika mereka membaca karya para penyair pendahulu yang sudah menorehkan jejak estetik dalam belantika perpuisian Indonesia. Nah ini yang terasa sedih, mereka merendahkan dirinya dan tampil ke muka, jauh di bawah pencapaian estetika puisi-puisi Chairil.

Tahun ini, tepatnya 26 Juli 2022, usia Chairil akan genap satu abad. Jika masih hidup, mungkin ia bukan hanya berteriak 'Yang bukan penyair dilarang ambil bagian," bisa jadi teriakannya lebih sarkastis dari itu.

Kita perlu menghargai leluhur, sebagaimana seluruh kitab suci memberi contoh. Kenapa dalam seluruh kitab suci agama samawi atau Ibrahimiah selalu dikisahkan Nabi Musa dan Nuh? Bukankah peristiwanya sudah jauh berlalu?

Tiada lain dan tiada bukan, supaya kita becermin pada karakter baik dan karakter buruk manusia masa lalu. Kita jangan jadi Firaun, dengan ciri-ciri: Sangat Super-Ego, sehingga menempatkan dirinya seperti Tuhan. Kita juga jangan menjadi seperti Yahuda yang melahirkan Yahudi. Adapun Yahuda, adalah anak sulung dari Yaqub, yang demi ingin tercapainya cita-cita, Yahuda menggebruskan adiknya, Yusuf, ke dalam sumur, dan berbohong kepada ayahnya, Yaqub, bahwa Yusuf telah dimakan srigala.

Karakter Yahudi yang demi mencapai tujuan itu, menjalankan siasat berbohong, lalu kepada Musa berkali-kali membangkang, bahkan menyuruh Musa, temui Tuhan yang kau banggakan itu, aku baru akan beriman jika Kau bertemu Tuhan.

Maka pergilah Musa ke Tursina, dan bercakap-cakap dengan Tuhan secara langsung. Tapi Musa pingsan selama 40 tahun. Saat kembali kepada kaum-nya, Yahudi, ternyata Yahudi telah sesat, disebabkan mau menyembah anak sapi gubahan Samiri.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X