Pengamat Telematika:Bukan Solusi Terbaik

- Rabu, 13 Juli 2022 | 09:01 WIB

Setelah registrasi saya harus menunggu OTP tetapi ternyata kata aplikasinya *ada kendala pada server yang harus dicoba diulangi* dan berulang kali tetap berkendala, tidak mungkin servernya sibuk karena registrasi saya lakukan pukul 22.23 WIB.

Jam 23 WIB saya coba sampai tiga kali dikatakan sudah mengirim OTP tapi ternyata tidak ada SMS yang masuk.

Pagi ini saya coba pukul 09.50 WIB Baru bisa terima OTP secara normal dan terverifikasi.

Kita ketahui bahwa momentum program ini agar pengguna myPertamina dapat membeli pertalite/biosolar/elpiji 3kg sesuai hak dan kebutuhan akan tetapi sangat mengecewakan bahwa aplikasi tsb isinya tidak berbeda dengan *sekedar layanan online shop* pada umumnya, seperti penawaran baju, event, promo dll. Jelaskan program ini merupakan areanya Pertamina Patra Niaga karena jadi menjual banyak komoditi di luar BBM.

Saya tadinya sangat berharap ada juga suatu highlight mengenai sosialisasi program pembatasan pertalite, bio solar dan elpiji 3kg tapi ternyata sama sekali tidak ada. Padahal apabila hal itu dicantumkan maka akan semakin mensosialisasi dan menyadarkan program ini kepada semua masyarakat dari berbagai kalangan.

Kita ketahui bahwa terkadang kita pergi bawa kendaraan tapi lupa membawa ponsel atau ponsel rusak/lowbatt di jalan, begitu pula bagi yang tidak punya aplikasi maka QR Code hanya diwajibkan untuk dicetak
(tetapi sama sekali tidak ditentukan harus pada media yang tidak mudah robek atau rusak) padahal *suatu QR Code itu sangat sensitif dan protektif* Apabila ada area yang tidak jelas ataupun kontras dalam pembedaan hitam putihnya maka QR Code tidak bisa terbaca. Dan tidak mudah bagi si pemilik kendaraan untuk mencetak ulang mengingat seperti sudah saya jelaskan di atas bahwa dokumen untuk mendapatkan QR Code itu cukup banyak syaratnya.

Berarti saat itu pengemudi tidak bisa mengisi bensin. Dapat dibayangkan banyak mobil yang mogok di jalanan karena tidak dapat bensin.

Lalu bagaimana dengan mobil sewaan atau yang dipinjamkan? Untuk mengisi bensinnya juga akan menjadi kendala karena si pengemudi tidak mempunyai myPertamina yang sesuai dengan kendaraan. Atau tidak punya akses ke QR Code. Hal ini juga akan menjadi masalah.

Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu Pertamina mensyaratkan pemasangan RFID bagi mereka yang ingin menggunakan premium sesuai haknya dan kemudian kita harus berbondong-bondong melakukan registrasi pada berbagai titik registrasi yang tersebar di seluruh Indonesia. proyek tsb saya yakini menghabiskan miliaran akan tetapi hasilnya kini alat itu tidak pernah dipakai entah apa alasannya tetapi yang paling mungkin adalah resiko adanya gelombang elektromagnetik saat alat pembaca RFID mendekati tangki bensin yang bisa mengakibatkan mobil terbakar. Dengan berhentinya program tersebut berarti dana yang sudah digunakan menjadi terbuang sia-sia.

Belum lagi agar my Pertamina bisa lebih optimal maka penggunanya harus register dengan LinkAja, berarti semakin banyak aplikasi yang harus dipasang pada ponsel semua ini tentu akan memberatkan ponsel itu sendiri. Mengapa KemenBUMN tidak membangun suatu aplikasi yang mampu mengintegrasikan atau melakukan interoperability berbagai layanan BUMN yang ada sehingga satu aplikasi bisa bermanfaat untuk berbagai persero dibawah kemenBUMN.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X