Leumuria

- Rabu, 20 Juli 2022 | 07:30 WIB
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)

Oleh Doddi Ahmad Fauji

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Orang Inggris menyadari, tidak ada yang benar-benar baru di muka bumi ini, dan mereka membuat babasan (peribahasa) dengan bunyi: Nothing new under The Sun!

Menulis kata The, menggunakan huruf T kapital, dan dalam gramatika Inggris, bila the ditulis dengan T besar, itu artinya urgentif.

Ini menandakan, Sun yang dimaksud, diawali dengan The yang spesial, bahwa di sana terdapat simbol relijiusitas, bahwa Matahari adalah pralambang dari pencipta Matahari itu sendiri, yakni God.

Sikap orang Inggris dalam mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar baru di muka bumi, sebab manusia hanya bisa merombak dan mengembangkan, energi tak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan dan manusia hanya bisa mengkonversi, menegaskan yén semua ide telah diciptakan Tuhan, dan menusia yang kreatif, akan mengembangkan ide tersebut.

Maka dari itu, saya berkali-kali sejak 2017 berujar, yén kesenian terbaik untuk masa kini dan ke depan ialah seni berkolaborasi (bekerjasama yang seimbang), hingga tercipta marwah sinergisitas (soliditas dan solidaritas). Ada yang berujar, kata sinergi itu ciptaan Tuhan, namun dibahasakan dengan fonemik atau fonetik yang berbeda, seperti di Sunda, sinergi ditulis dengan sinéger, dan akan dilanjutkan dengan kata tengah, lahirlah istilah ‘sinéger tengah’ (berimbang).

Maka dalam kondisi dituntut untuk bisa sinéger tengah itu, kompetisi tetap harus dijalankan dengan jujur dan adil, dan semangat silaturahmi batin juga harus ditingkatkan. Silaturahmi tidak cukup hanya bersalaman dan ‘pa-amprok jonghok’, seperti demonstran dan aparat, mereka paamprok (resiprokal) namun berjabatan fisik dengan batu dan peluru, atuh berakhir rusuh.


Dari twitter @alienesubi89
Maka kini, yang kerap menjadi mamala ialah, ketika mental megalomania masih dikembangkan, dikedepankan, dan menjadi latar untuk perjuangan yang dijalankannya. Ia menjadi ‘Yang Ter’ namun ditempuh dengan cara-cara akal bulus, dengan arogansi, dengan memperbudak manusia, sungguh itulah yang sering bikin ricuh. Punten misalnya, ingin dinobatkan sebagai sastrawan paling berpengaruh di Indonesia, kita lihat dampaknya, saling silang dan saling sikut antar-sastrawan, dan pergaulan antara sekian sastrawan jadi terganggu, antara yang pro dan kotra, hingga kini. Banggakah Anda?

Keingan menjadi Yang Ter adalah mental megalomania, dan itu merupakan titisan dari roh Firaun.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Negara Jerman(2):Hazrina Puteri Nabilla

Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:38 WIB

MenantikanKebangkitan Industri Penerbangan Indonesia

Selasa, 4 Oktober 2022 | 05:47 WIB

Ledakan Bom Sosial dalam Kekerasan Sepak Bola

Senin, 3 Oktober 2022 | 15:02 WIB

Harkat Martabat

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:38 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB
X