Kekayaan Intelektual Baim

- Rabu, 27 Juli 2022 | 14:41 WIB
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)

Oleh Akhlis Suryapati.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Intelektualitas yang terejawentahkan (diwujudkan dalam penampakan) merupakan ‘harta kekayaan’.  Karena itu dalam pranata sosial sekarang ada hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Pemiliknya adalah sang pencipta atau yang tertera dalam sertifikat..

Selebritas Baim Wong yang terkenal dan sudah cukup memiliki harta kekayaan itu, merasa dirinya memiliki hak atas penampakan Citayam Fashion Week, maka dia daftarkan nama atau istilah aksi  gaya-gaya di Dukuh Atas, kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, itu ke instansi negara yang mengaturnya untuk melegalkan bahwa Citayam Fashion Week adalah nama atau merek miliknya. Ehem.

Kekayaan intelektual dalam peraturan perundang-undangan meliputi hak cipta, hak merek, hak paten – ditambah hak rahasia dagang; desain industri; indikasi geografis; dan tata letak sirkuit terpadu.

Citayam Fashion Week dalam hal ini didaftarkan sebagai Hak Merek; definisinya kira-kira sesuatu berupa nama, susunan huruf-huruf, gambar, komposisi warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

Para ahli hukum kiranya bisa lebih terampil menjelaskan masalah (HAKI) ini, termasuk adanya Hak Paten sebagai hasil invensi bidang teknologi, Hak Cipta sebagai kepemilikan atas sebuah ciptaan yang diwujudkan dalam bentuk nyata – serta hak-hak atas kekayaan intelektual lainnya. Saya ngomongin dari sisi yang lain saja.

Pemahaman dan perlakuan kita atas hak kekayaan intelektual, pada gilirannya terasa seperti bangsa yang tercerabut dari tradisi atau adat istiadat kearifan lokal yang seringkali kita banggakan. Kita pernah mengenal tradisi gotong royong, amal jariyah, sampaikan ilmu walau satu ayat, juga kita pernah pelajari bahwa para pujangga berkarya sastra sebagai dedikasi kepada Rakyat atau Raja.

Para filsuf dan ulama menyusun buku untuk ummat. Para empu membuat keris untuk Ksatria. Para koreografer menciptakan tarian untuk Dewa. Para wali membuat syair untuk berdakwah. Para senirupawan membuat patung, candi, hingga lukisan – sebagai sebuah persembahan. Bukan sebagai investasi dan deposit kekayaan.

Walau dasar falsafah hukum di Indonesia adalah Pancasila seraya mengkodifikasi Hukum Adat dan Hukum Islam; dalam riwayat hak kekayaan intelektual ini rasanya kita lebih sebagai bangsa yang tidak berdaya pada konvensi internasional, setelah tahun 1988 meratifikasi kembali Konvensi Berne (1886); untuk kemudian menerbitkan peraturan-peraturan perundangan, dimulai dengan Perubahan Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta dengan UU Nomor 7 Tahun 1987 – disusul peraturan perundang-undangan tentang HAKI lanjutannya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Negara Jerman(2):Hazrina Puteri Nabilla

Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:38 WIB

MenantikanKebangkitan Industri Penerbangan Indonesia

Selasa, 4 Oktober 2022 | 05:47 WIB

Ledakan Bom Sosial dalam Kekerasan Sepak Bola

Senin, 3 Oktober 2022 | 15:02 WIB

Harkat Martabat

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:38 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB
X