Omerta

- Minggu, 7 Agustus 2022 | 21:05 WIB
Benny Benke (Doc Pribadi)
Benny Benke (Doc Pribadi)

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,-
Setelah Panglima Tertinggi TNI hingga empat kali mengingatkan untuk menomorsatukan keterbukaan dan kejujuran. Lalu Menkopolhukam menjadi corong keras pemerintah sampai meminta institusi Kepolisian untuk menihilkan persoalan psiko-hierarkis dan psiko-politis di persoalan tewasnya Brigadir J.

Akankah institusi Bhayangkara tetap kopig menjalankan Code of Silence, atau Omertà, sebagaimana dilakukan para bandit yang kecokok pihak berwajib di masa mafia masih bersimaharaja di Italia juga di AS?

Semoga tidak. Makin ke mari, sandiwara dengan bangunan skenario superburuk, yang bahkan belum masuk kategori jelek, pelan-pelan mulai terurai. Meski lambat, tapi himbauan orang nomor satu di Republik ini, mulai membuahkan hasil.

Kode bungkam, menutup mulut, mematikan seribu basa, sebagai kode kehormatan yang galib dilakukan sindikat mafia paling kuat di abad ke-21 seperti Camorra Neapolitan, atau "Cosa Nostra" di Sisilia, lalu Calabria 'Ndrangheta', hingga Sacra Corona Unita atau "United Sacred Crown" di beberapa wilayah di AS, sepertinya mulai berhasil dibongkar Kapolri. Meski konon  yang dihadapinya, dipercaya, adalah "anak emasnya" sendiri.

Kode bungkam yang identik dengan perilaku mengutamakan tutup mulut dalam menghadapi interogasi oleh pihak berwenang atau orang luar. Lalu memilih emoh bekerjasama dengan pihak berwenang, juga pemerintah, terutama selama investigasi kriminal berlangsung, tidak membuahkan hasil lagi.

Apalagi dalam kasus terkini, yang ditimbang bermasalah adalah orang nomor satu Polisinya Polisi; Kadiv Propam.

Meski kita, paling tidak saya, sempat pesimis kasus ini akan menemui titik terang. Tapi arah angin tampaknya mulai berbalik, merubuhkan bangunan cerita yang tidak saja mengejek nalar sehat. Tapi juga menjungkirbalikkan cara berpikir sewajarnya.

Kita semua maklum, kewajaran memang nyaris sirma dalam perikehidupan kita. Tapi jika menghilangkan nyawa orang lain dianggap sebagai kewajaran, berarti ada dan banyak yang salah dalam kemanusiaan kita.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Negara Jerman(2):Hazrina Puteri Nabilla

Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:38 WIB

MenantikanKebangkitan Industri Penerbangan Indonesia

Selasa, 4 Oktober 2022 | 05:47 WIB

Ledakan Bom Sosial dalam Kekerasan Sepak Bola

Senin, 3 Oktober 2022 | 15:02 WIB

Harkat Martabat

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:38 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB
X