Balada Sambo, Kau Bukan Dirimu Lagi

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:15 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

Sedangkan jika ditemukan mengandung unsur pidana, dapat dibawa kepada proses hukum pidana yang berlaku. Pendek kata, Propamlah yang menjaga harkat dan martabat polisi. Marwah polisi.

Tak heran jabatan Kepala Propam menjadi sangat berpengaruh. Berwibawa. Tak ada polisi yang tidak “jiper” (baca: takut) terhadap Propam. Selain kalau terbukti bersalah dapat dikenakan sanksi, dalam karier si polisi bakal ada catatan negatif pernah ditindak Propam. Kalau boleh, polisi selalu akan menghindar dari sanksi Propam.

Sesama jenderal bintang dua pun, segan kepada pemangku Kepala Propam. Posisi itulah yang disandang oleh Sambo. Hebat bukan? 

Tak sampai disitu. Sambo sudah digadang-gadang menjadi next Kepala Polisi (Kapolri). Tinggal tunggu waktu saja, posisi Tribrata 1 atau TB1, julukan Kapolri, berpeluang dapat diraihnya. Kurang apa lagi? 

Oh ya, semua itu masih didukung oleh kekayaan yang memadai. Rumah, tanah dan mobil tersedia lebih dari cukup. Barang-barang branded pun menjadi salah satu keseharian yang dinikmatinya, termasuk pistol merek Glock.

Untuk senjata api pistol, merek ini setara merek tas wanita seperti Hermes, Louis Vutton dan lain-lain. Hanya para perwira dan kaum the haves yang mampu membeli pistol ini.

Sambo pun sanggup mempunyai pistol Glock.
Jadi, apalagi yang kurang dari Sambo? Segalanya boleh dibilang relatif “sempurna.” Maka tak heran jika banyak orang yang “ngiri” terhadap Sambo. Ingin jadi seperti Sambo. Berkhayal dapat sehebat Sambo. 

Meskipun telah banyak didengungkan dan diulang-ulang, tapi tak banyak yang dapat menghayati : kekuasan, jabatan, uang dan harta ialah amanah yang perlu dijaga dengan cermat, hati-hati dan penuh kehormatan.

Jika tidak, kekuasan, jabatan, uang dan harta itu justeru tiba-tiba bakal menjadi palu godam yang mampu meruntuh lantakkan semua yang dimiliki dalam sekejab. Harga diri akan terpelanting sampai titik nadir. Sampai di tingkat hina dina sehina-hinanya.

Sambo, tentu, paham soal ini. Apalagi dia penjaga marwah polisi. Pasti dia tahu benar akan hal ini, bahkan mungkin hafal. Hanya satu yang kurang, dia tidak menghayati sepenuh hati. Dia tidak menjiwai dengan seluruh tarikan nafasnya. Sambo hanya menempelkan pada dirinya, tetapi tidak melekatkan pada jiwanya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X