Balada Sambo, Kau Bukan Dirimu Lagi

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:15 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

Sambo hanya menafsirkanya secara harafiah, bukan dari nurani yang terdalam. Walhasil, Sambo tersandung di “lobang yang keci,” tapi berdampak meledak dahsyat menjadi gempa nasional. 

Terpicu oleh motif yang sejatinya dapat “diselesaikan” oleh perwira tinggi setingkatnya, tapi emosi Sambo tersulut luar biasa. Dia lepas kendali. Sesaat dia hilang akal sehat. Sambo dituduh sebagai aktor intelektual pembunuhan berencana anak buahnya sendiri.

Itu yang pertama. Adapun yang kedua, cara eksekusi pembunuhan itu sendiri “sangat amatiran.” Disain pembunuhan kentara sama sekali tidak matang.

Alibi-alibi yang ingin diciptakan cetek (baca: dangkal) sekali. Seakan semua itu dilaksanakan oleh penjahat amatiran yang sama sekali tidak pernah mengenal keahlian kriminal.

Tak ada impresi sama sekali itu dilaksanakan oleh seorang jenderal pemegang marwah polisi yang sudah memiliki pengetahuan asam garam lika-liku perbuatan kriminal. Cara bertindaknya bukan cara seorang jenderal bintang dua.

Memang itulah yang sering terjadi jika kekuasaan, jabatan, uang dan harta tidak dirawat sebagaimana semestinya. Pemangkunya menjadi kalap. Hilang pertimbangan taktis dan teknis.

Dampaknya, seluruh tindakannya dengan mudah dapat terlacak dan terbongkar. Hampir tak ada yang menjadi misteri yang tak terpecahkan dalam kasusnya, meski atas permintaannya sendiri motif Sambo melakukan itu semua belum diumumkan oleh polisi

Sang perwira tinggi yang gagah nan perkasa serta berkuasa itu pun kini menghadapi ancaman tuntutan yang maha berat: mulai hukuman mati, seumur hidup sampai yang paling ringan 20 tahun penjara. Balada kejayaan Sambo ambyaar dalam sekedipan saja.

Tak hanya sampai disitu. Sambo pun menularkan pengaruh buruk terhadap para loyalisnya. Mereka juga terancam hukum yang berat karena disangka ikut membantu melaksanakan rencana pembunuhan oleh Sambo. 

Nah, apakah setelah seperti ini, masih banyak yang masih “ngiri” kepada Sambo? Semua yang saya tanya, langsung menggeleng kepala. Tak ada lagi yang “ngiri” terhadap Sambo. Tak ada lagi yang mau bernasib seperti Sambo.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuda Hitam Pilpres 2024.

Jumat, 9 Desember 2022 | 02:22 WIB

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X