Abimanyu Wahjoewidajat: Tanggapan dan Ulasan Rekaman CCTV Kasus Ferdi Sambo

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 19:27 WIB

Abimanyu Wahjoewidajat

Pakar Telematika

Menanggapi rekaman dari banyak CCTV ttg kasus Brig J yang kini telah beredar (di media dan di masyarakat) bila dihubungkan dengan skenario yang ada tentu menunjukkan kejanggalan, atau bahkan jadi temuan dan mengungkap fakta.

1. Apabila benar ada tindakan TPKS terjadi di Magelang, apabila hal tersebut diistilahkan sebagai pelecehan, terlihat PC masih berkenan disetirin belasan jam semobil dengan Brig J dlm perjalanan ke Jakarta padahal ada mobil lain yang ikut konvoi.

2. Di rumah pribadi PC ada bukti CCTV Brig J masih diperiksa PCR. Bila benar telah melakukan TPKS terhadap majikan sewajarnya Brig J akan *dilarang untuk masuk ke rumah pribadi majikan*.

3. Dengan rentang waktu yang pendek dihitung dari waktu PC keluar dari rumah pribadi sampai waktu dieksekusinya Brig J itu cukup pendek, tidak mungkin ada kejadian bahwa Brig J mempunyai waktu luang melakukan pelecehan terhadap PC apalagi sambil menodongkan dengan pistol. Untuk melakukan hal tersebut sangat membutuhkan waktu yang pas antara pelaku, korban saksi. Dan cari momen itu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat karena dari bukti CCTV tidak terlihat Brig J membawa pistol dipinggang atau dimanapun, apalagi untuk kelas Brigadir tidak mungkin pistolnya kecil, pasti dapatnya yang besar jadi pasti jelas terlihat pada CCTV

4. Tayangan hasil rangkaian CCTV hanya menunjukkan rombongan kendaraan ambulan hanya sampai pekarangan rumah sakit Polri. padahal logikanya pasti pada teras dan setiap ruangan IGD mempunyai CCTV juga. Lalu kenapa CCTV² di RS Polri yang menangani Brig J tidak disertakan?

5. Pada rumah yang menjadi TKP sewajarnya dilengkapi CCTV, karena itu rumah dinas perwira tinggi. Kalau ajudan dan pengawal aja banyak lalu kenapa CCTV sebagai alat bantu remote monitoring bagi penjaga keamanan rumah malah ngga ada? Dan Kalau dibilang sudah rusak dua minggu ini kan rumah dinas di mana pembiayaan oleh negara masa dibiarkan rusak selama itu? tapi kalau tidak ada pun maka CCTV sekitar bisa dimanfaatkan, Apalagi itu komplek para jenderal. minimal bisa menjadi pembuktian kebenaran mengenai adanya suara tembakan berkali-kali. Tanpa rekaman visual, adanya rekaman audio itu penting. Karena jumlah tembakan Glock terjadi 7x (sesuai luka pada Brig J) dan jumlah tembakan senjata Brig J sebanyak 5x (oleh FS) berarti pada CCTV rumah sekitarnya harusnya terdengar 12 kali tembakan yang terjadi tidak berurutan karena yang lima terakhir ditembakkan setelah Brig J tidak berdaya.

Apabila ada rekaman CCTV dalam rumah setidaknya akan kelihatan pelaku dan korban atau minimal terlihat dinding dan perabot gantung yang gompal terkena hantaman peluru baik langsung maupun hasil pantulan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X