Enam Alasan Perlunya Mengungkap Motif Sambo

- Senin, 15 Agustus 2022 | 11:10 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)



Oleh Wina Armada Sukardi.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Agar tidak terlampau stress, kita mulai tulisan ini dengan anekdot “klasik” yang banyak diceritakan di masyarakat wartawan hukum dan kriminal.

Konon, kabarnya, terjadi pembunuhan terhadap seorang foto model dan peragawati cantik. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan terkapar di lantai. Korban hanya mengenakan celana dalam dan kutang. Di badannya, ditemukan banyak luka.

Hebatnya, dalam hitungan waktu hanya tiga hari, misteri kematian wanita bertubuh sexy tersebut sudah berhasil diungkap oleh polisi.
Pada hari keberhasilan pengungkapkan kasus itu, Kapolres tempat kejadian perkara langsung mengadakan konprensi pers untuk menjelaskan bagaimana kasus itu dapat cepat terbongkar.

Penjelasannya gamblang, padat tapi sudah mencakup dasar-dasar yang diperlukan para wartawan menyiarkan beritanya. Setelah itu, seperti biasa, terjadi tanya jawab antara Kapolres dengan para wartawan yang berjubel di acara itu. 

“Pak, kan korban ditemukan dengan pakaian minim. Apa warna celana dalamnya ?” tanya seorang wartawan infotemen yang ingin mengetahui lebih detail pernak-pernik pribadi korban. 

“Merah!” jawab Sang Kapolres tanpa tedeng aling-aling. 
Seorang wartawan lain, dari media yang lebih serius, mengajukan pertanyaan berikutnya, ”Apa motifnya?”
Menghormati para wartawan, tanpa ragu, Kapolres itu menjawab lagi, ”Kembang melati putih kecil!” 

Mendengar jawaban itu, semua wartawan yang hadir tertawa terbahak-bahak. Ini lantaran maksud pertanyaan wartawan apa motif pembunuhannya, namun karena diajukan setelah pertanyaan apa warna celana dalam, Kapolres mengira, pertanyaannya masih terkait dengan motif celana dalam yang ditanya sebelumnya. 

Dalam perkara pidana, sejatinya, motif menjadi sesuatu yang sangat penting. Motif dapat menentukan seorang bersalah, atau tidak bersalah.

Motif menentukan ada tidaknya mens rea (niat jahat) dari yang bersangkutan atau tidak. Dalam hukum pidana berlaku prinsip “actus non facit reum nisi mens sit rea” yang berarti suatu perbuatan tidak membuat seseorang bersalah, kecuali dengan sikap batin yang salah. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X