Ferdy Sambo dan Kekuasaan.

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 06:17 WIB
Benny Benke (Doc Pribadi)
Benny Benke (Doc Pribadi)

Oleh Benny Benke 

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com, - Selalu ada kebijaksanaan dari sebuah peristiwa. Betapapun gulita dan brutalnya kejadian itu. Tak terkecuali dalam kasus Irjen Ferdy Sambo yang menghabisi anak buahnya sendiri, Brigadir Yosua dengan puluhan alasan pembenar atau pemberatnya, yang akan diuji di persidangan nanti.

Satu dari sekian banyak kebajikan yang dapat dipetik dari bagian sejarah kelam perjalanan Kepolisan Indonesia modern itu, adalah betapa nasib seseorang bisa berbalik 180 derajad, dalam hitungan jenak. Selekas kedipan mata, dan secepat syak wasangka juga emosi purba manusia, dilepaskan.

Dari seorang bintang dua Kepolisian, yang menjabat Kadiv Propam (Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan) merangkap Kepala Satgasus (Satuan Tugas Khusus) Polri, Irjen Ferdy Sambo akhirnya dipecat secara tidak hormat dalam sidang Kode Etik Profesi Polri (KEPP). Setelah sebelumnya diperotoli jabatannya. Sebelum akhirnya ditempat di tempat khusus, untuk kemudian akan diseret ke meja hijau. Menghadapi kemungkinan terberat; hukuman mati! Karena merencanakan dan mengotaki pembunuhan, serta turut melakukan penembakan.

Kisah ihwal seekor burung semasa hidupnya gemar dan riang memakan semut. Namun, ketika burung itu mati, giliran semut memangsanya. Juga cerita satu pohon dapat dibuat menjadi sejuta batang korek api, tetapi hanya dibutuhkan satu batang korek api untuk membakar sejuta pohon. Benar-benar terjadi dalam cerita Ferdy Sambo yang merawikan berbagai kisah turunannya; harga diri dan judi Online.

Ya, dari kekeliruan Ferdy Sambo kebijaksanaan mengajarkan lagi kepada kita, jika keadaan bisa berubah sewaktu-waktu. Seketika. Secepat sesal kembali membangunkan kesadaran kita. Betapa yang telah kita lakukan, dapat kembali menghajar diri kita sendiri, tanpa permisi, ampun dan keras sekali. Nyaris tak terpermaknai beratnya.

Makanya, saat kita berada di posisi atas seperti Sambo, jangan suka merendahkan, menyakiti bahkan membunuh, apalagi kepada orang-orang terdekat dalam lingkaran kita.

Anda, saya, juga kita semua, mungkin kuat dan sangat berkuasa sekali hari ini. Jaringan kekuasaan dan ekonomi kita boleh tidak terbantahkan. Gagah perkasa. Tetapi ternyata, waktu lebih kuat dari kita semua. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Waktu paling digdaya.

Kebijaksanaan Jawa yang mengatakan;
"Yen sira landep aja natoni, yen sira banter aja nglancangi, yen sira mandi aja mateni, (Jika engkau tajam (kuat / kuasa) jangan menyakiti, jika engkau cepat (hebat) jangan mendahului, jika engkau sakti (digdaya) jangan membunuh),” dinihilkan oleh Sambo.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X