Orang Hilang

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 12:54 WIB
Fransisca Ria Susanti (Dokumen Pribadi Fransisca Ria Susanti)
Fransisca Ria Susanti (Dokumen Pribadi Fransisca Ria Susanti)

Oleh Fransisca Ria Susanti.

Selamat ulang tahun Kang. Dimanapun dirimu berada.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka,- Pagi di akhir tahun 1993 di Salatiga. Seorang lelaki berambut ikal dengan jaket biru parasut duduk berjongkok di sebuah emper toko yang belum buka. Saya mendekatinya ragu-ragu, menyapanya, dan memperkenalkan diri. Ia bukan jenis orang yang ramah dalam sekali pandang. Senyumnya jarang, mata sebelah kirinya lebih kecil dari yang kanan, suaranya cadel.

Selama ini, saya hanya mengenal namanya lewat puisi, yang terbit di halaman belakang majalah Progress—majalah yang beredar di kalangan aktivis gerakan tahun 1990-an— yang sering saya bacakan saat dipaksa orasi di halaman perpustakaan kampus. Bagi saya, namanya adalah simbol perlawanan, dan saya diam-diam memujanya.

Pertemuan di emper toko pagi itu mirip dengan perjumpaan dengan tokoh idola. Saya grogi. “Aku adiknya Sigit Santoso,” ucap saya, merasa itu adalah kata kunci untuk bisa membuatnya bicara lebih panjang daripada sekadar “halo”, “dari mana?”, atau “baru pertama kali ikut aksi?” Pancingan saya berhasil. Senyumnya mengembang, tergelak, dan mendadak ia lebih rileks.

Lelaki tersebut, Wiji Thukul, adalah kawan kecil kakak saya, seorang pelukis realis yang pada awalnya ingin menjadi penyair gara-gara hampir setiap hari membaca draft puisi Thukul.

Pagi itu, sebelum aksi petani memprotes buangan limbah PT. Damatex yang dikomandani seorang mahasiswa berambut ikal yang kelak menjadi menteri di era Jokowi digelar, saya dan Thukul berbincang tentang apa saja.

Mulai kenangan masa remajanya, gerakan mahasiswa, aksi aliansi antarsektor, dan sebuah mimpi tentang membangun partai politik yang lepas dari bayang-bayang hegemoni Soeharto—sebuah partai yang memiliki visi kerakyatan.

Agaknya saya terlalu bersemangat berdiskusi dengannya, hingga ia bertanya: “Kalau ada partai semacam itu di Indonesia, kau mau ikut?” Saya, mahasiswa dari sebuah kampus di Semarang yang hari itu ditugasi meliput aksi petani untuk majalah fakultas, mengangguk mantab.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X