Orang Hilang

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 12:54 WIB
Fransisca Ria Susanti (Dokumen Pribadi Fransisca Ria Susanti)
Fransisca Ria Susanti (Dokumen Pribadi Fransisca Ria Susanti)

Di Semarang, kota dimana saya kuliah, tahun 1995 untuk pertama kalinya para mahasiswa bergabung dalam aksi buruh untuk memperingati 1 Mei: hari buruh yang dirayakan di era Orde Lama tapi ditabukan di zaman Soeharto.

Para aktivis SMID dan PPBI bergabung dengan ribuan buruh dari kawasan industri di Mangkang dan Semarang Barat yang berunjuk rasa ke kantor DPRD Jawa Tengah. Aksi tersebut dengan cepat berubah ricuh.

Di ruas Jalan Pahlawan, menjelang bundaran air mancur yang salah satu sisinya mengarah ke kampus Universitas Diponegoro, aparat gabungan polisi dan tentara membubarkan para pengunjuk rasa dengan brutal: menabrak dengan motor trail, mengejar dengan pentungan, dan menggebuki pengunjuk rasa dengan beringas.

Saya histeris saat menyaksikan seorang kawan yang bertugas mendokumentasikan aksi tersebut dengan kamera dikejar polisi, dipentungin hingga kayu pentungan patah dua, dan kamera SLR-nya jatuh membentur aspal—lensa terlepas dari body. Hari itu, beberapa orang ditangkap, dan para mahasiswa serta dosen di kampus Undip mulai bergosip bahwa gerakan mahasiswa disusupi komunis.

Pada 9 Desember 1995, saya, Thukul, serta belasan mahasiswa dan buruh ditangkap dalam aksi buruh PT. Sritex di Sukoharjo, Jawa Tengah. Para mahasiswa dan buruh dinterograsi di tempat terpisah. Di kemudian hari saya tahu bahwa Thukul mendapatkan kekerasan saat penangkapan.

Ia dipukuli dengan beringas oleh polisi hingga mata sebelah kanannya nyaris buta. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Yap Yogyakarta selama beberapa hari.

Tanggal 22 Juli 1996, dengan mata kanan yang belum bisa melihat sempurna, Thukul muncul dalam deklarasi Partai Rakyat Demokratik di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Mengenakan baju kotak-kotak lengan pendek warna merah hitam dan syal bergambar bintang gerigi—simbol PRD, ia membacakan puisi terkenalnya: Peringatan dan Sajak Suara. Saya duduk di depan, menepati janji saya padanya tiga tahun sebelumnya: bergabung dalam partai politik yang punya visi kerakyatan, menjadi salah satu pengurus, di usia 22 tahun. 

Ketuanya seorang pemuda kutu buku, yang memutuskan berhenti kuliah, dan memilih mengorganisir petani. Kelak, setelah mendekam selama 3,5 tahun di penjara Orde Baru dan menyelesaikan studi doktoral hingga ke Inggris, ia duduk sebagai anggota parlemen dari partai yang bukan PRD.

Saya tak pernah menduga bahwa hari deklarasi PRD itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Thukul. Segera setelah meletus peristiwa 27 Juli 1996—pengambilalihan markas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pimpinan Megawati Soekarnoputri oleh massa Suryadi yang mendapat back-up dari Soeharto, PRD segera menjadi sasaran tembak.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menimbang Gibran di Pilgub Jateng.

Jumat, 3 Februari 2023 | 06:35 WIB

Bela Negara, Bukan Sekadar Aksi Angkat Senjata

Kamis, 2 Februari 2023 | 23:03 WIB

Bela Negara dan Persepsi Publik

Kamis, 2 Februari 2023 | 22:43 WIB

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB
X