Ke Gontor Apa Yang Kau Cari?; Penganiayaan Berbuah Kematian di Perkajum.

- Selasa, 6 September 2022 | 16:22 WIB
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)
Akmal Nasery Basral (Arsip Pribadi)

[SKEMA]
Sketsa Masyarakat

Oleh Akmal Nasery Basral

“ ,Orang yang benar niatnya
akan menemukan ilmu yang bermanfaat dan berkah.
Akan mudah baginya
memberikan kemanfaatan ilmunya”
~ KH Ahmad Zarkasyi
(1910 - 1985)

1/
Ini skenario buruk yang bisa saja terjadi di masa depan: orang tua akan berpikir seribu kali sebelum mengirimkan anak-anak mereka ke pondok pesantren. Sebab anak perempuan rentan menjadi korban pencabulan, sedangkan anak lelaki dipulangkan dalam keadaan mati. Seperti dialami seorang santri bernama Albar Mahdi.

Kisah ini bermula dari perkajum (perkemahan Kamis dan Jum’at) santri ponpes Gontor 1, Ponorogo, Jawa Timur, pada 18-19 Agustus 2022.

Albar Mahdi yang berusia 17 tahun—biasa dipanggil Aat—ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Dia santri aktif dan berprestasi. Saat pertama datang dari Palembang mendapat tempat sebagai santri ponpes Gontor 4, Banyuwangi. Kecerdasannya membuat para guru merekomendasikan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Rusdi-Siti Soimah itu untuk menimba ilmu di Gontor 1.

Tiga hari usai Perkajum, sekitar pukul 10.20 WIB (Senin, 22/8), Soimah menerima telpon dari Gontor yang mengabarkan putranya mengembuskan napas terakhir pukul 06.45 WIB. Penyebabnya? Terjatuh akibat kelelahan sebagai ketua pelaksana perkajum. Soimah terkejut mengapa butuh waktu hampir empat jam untuk menyampaikan kabar duka sementara data orang tua santri lengkap di ponpes?

Selasa siang jenazah Aat tiba di Palembang. Seorang ustaz dari Gontor yang menyerahkan jenazah kepada keluarga dengan mengatakan penyebab kematian Aat akibat kelelahan. Anak ini “mati syahid”. Namun keluarga curiga melihat kain kafan pembungkus jenazah yang di beberapa bagian berwarna merah tersebab rembesan darah. Soimah sebagai ketua arisan perkumpulan orang tua santri Gontor di Palembang—beranggota 20-an orang—juga mendengar info berbeda dari orang tua santri lainnya mengenai penyebab kematian anaknya.

Maka perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai wartawati media _Suara Nusantara_ (koransn.com) itu meminta ustaz pengantar jenazah Aat tetap di rumah mereka, sabar menunggu kedatangan dokter yang akan dihubungi untuk melakukan forensik. Strategi ini berhasil. Sang ustaz pun mengubah keterangannya: Aat meninggal dunia akibat penganiayaan yang terjadi di Perkajum. Namun dia tidak tahu kejadian rincinya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuda Hitam Pilpres 2024.

Jumat, 9 Desember 2022 | 02:22 WIB

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X