Dewan Pers Berbenahlah

- Rabu, 7 September 2022 | 12:17 WIB
Dimas Martosuwito  (Dokumen Pribadi Dimas Martosuwito )
Dimas Martosuwito (Dokumen Pribadi Dimas Martosuwito )

Oleh Dimas Martosuwito. 

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com, - Seorang jurnalis senior, sahabat, yang pernah sama sama di grup perusahaan media - sebelum saya pensiun - menanyakan langkah saya untuk menyoal jumpa pers di Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih - Jakarta Pusat, Jumat siang, 15 Juli 2022, terkait kasus / skandal Ferdy Sambo, dengan pertanyaan, “Siap gak menerima resiko apapun jika ada efek dari surat DP ini? ”.

Dia menduga akan kemungkinan adanya serangan balik dari Dewan Pers. Dan berdampak pada diri saya.

Saya menjawab, resiko apa yang harus ditanggung oleh anggota organisasi yang mempertanyakan dan mengoreksi kebijakan organisasinya? Sebab, saya tidak anti organisasi pers dan tidak anti Dewan Pers. Sampai hari ini saya menjadi bagian dari organisasi pers. Saya anggota PWI Jaya, dan ikut uji Kompetensi di Dewan Pers pada 2013 lalu. Nama saya pun ada di website Dewan Pers. Saya justru mendukung keberadaannya – sebagai benteng terakhir kemerdekaan pers di Indonesia – yang mengemban tugas mulia. Saya mendukung dan ikut menjaga marwahnya.

Yang saya gugat adalah orang orang yang duduk di posisinya - tapi tidak kompeten. Khususnya Komisi Penegakkan Etika Pers – yang saya anggap tidak beretika. Diketuai oleh orang yang tidak paham Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Saya, Dimas Supriyanto, jurnalis Anggota PWI Jaya, Pemimpin Redaksi portal Seide.id, kembali mengirimkan surat kepada Prof. Dr. Azyumardi Azra, selaku Ketua Dewan Pers pada 6 September 2022 kemarin, mempertanyakan tindak lanjut penanganan kasus siaran pers mengutip sumber resmi dari polisi.

Sebagai cendekiawan muslim, akademisi, rektor UIN, saya layak berharap Ketua Dewan Pers Prof.Dr. Azyumardi Azra akan ikut menjaga kemerdekaan pers dan insan pers di Indonesia, dan menerima berbagai aspirasi dari insan pers demi peningkatan integritas pers nasional.

KITA SAMA sama tahu, bahwa setelah terjadi insiden pembunuhan di Komplek Polri Durentiga, pada Jumat, 8 Juli 2022, kaki tangan Irjen. Pol. Ferdy Sambo mengirimkan orang orangnya untuk “mengamankan” dan mengaburkan informasi, dengan narasi “tembak menembak” - “pelecehan seksual” – "Pada saat kejadian, Kadiv Propam tidak ada di rumah karena sedang PCR test," yang mana dengan narasi itu, menipu seluruh jurnalis dan rakyat seIndonesia.

Dari balik upaya mengamankan isteri Sambo sebagai “korban pelecehan yang mengalami trauma", juga terungkap pemberian amplop coklat yang ditengarai sebagai suap dan tutup mulut, seperti yang diungkapkan oleh LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), yang kemudian ditolak.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X