Yang Tercecer Dari Swami, Dalbo dan Kantata Taqwa, Jilid 3

- Rabu, 14 September 2022 | 15:05 WIB
Personil Dalbo (Istimewa )
Personil Dalbo (Istimewa )

Versi mBah Coco, DALBO, memang sebuah inspirasi Jabo sebagai sosok, yang kaya akan nuansa dan wawasan kehidupan, dalam berteater di Bengkel Teater, dan menggosok badan tubuhnya di dalam ilmu Bangau Putih, dan bergelut dalam kehidupan “Bronx” kawasan legenda Jogjakarta, Malioboro. Serta, dilahirkan di kota arek-arek Suroboyo, yang tak pernah padam menyuarakan nasionalisnya.

Dari 10 lagu di kaset DALBO, lebih dari 70% semuanya karyanya Sawung Jabo. Seperti “Sudrun”, “Karena Kau Bunda Kami”, “Hua Ha Ha”, “Dunia Binatang”, dan ‘Aku Bosan”. Sedangkan, kolaborasi Jabo dan Iwan alias Virgiawan, ada di lagu, “Kwek-Kwek-Kwek”, “Hura-hura, Hura-hura”, “Dalbo”, dan “Bidadari Senjakala”. Hanya satu lagu, karya Innisisri, yaitu “Ini Si Trendy”.

Yang mungkin, banyak bertanya-tanya, baik penggemar musik jagat Indonesia, atau pun penggemar Iwan Fals, khususnya OI. Mengapa, personil SWAMI 1 dan 2, nggak berbeda dengan pasukan DALBO?

Nggak perlu dijawab oleh semua personil. Cukup, dijawab mBah Coco saja ya!

“Ya suka-suka merekalah. Mereka sudah menyatu, dalam wadah SIRKUS BAROCK, nyaris 80% personil SWAMI 1, dan 2, serta DALBO, adalah adalah grup bandnya Sawung Jabo. Dan, dalam pergulatan kreatif, mereka sudah katham dalam satu bathin, dalam bermusik.”

Mosok, harus bongkar pasang….heheheheh

Sawung Jabo, Innisisri, Nanoe, dan Toto Tewel sudah lama banget berkumpul dalam siklus kehidupan bathin di SIRKUS BAROCK. Kalau, hanya nambah, Iwan Fals, Yockie Suryo Prayogo dan Naniel Yakin. Sepertinya, nge-klik…dan menyumblim, bro!

Pertanyaannya, lalu ke mana alur cerita si Badu? Eeee, maaf, maksudnya alur si Iwan Fals, seperti judul di atas.

Alkisah, Maret 1993. Di kawasan Museum Satria Mandala, di jalan Gatot Subroto, ujug-ujug ada lokasi hiburan. Namanya, Manari Kafe. Tempatnya, asyik di tengah kota, Jakarta Selatan. Disitulah, akhirnya pasukan DALBO, sepakat untuk melaunching album satu-satunya dari anak-anak bumi Indonesia, yang esentrik.

mBah Coco, sebagai wartawan musik abal-abal, sudah pasti ngebet segera untuk meliput, peristiwa langka tersebut. Sayang sekali, malam itu, terlambat. Maklum, harus deadline di markas SUARA MERDEKA dulu, mengerjakan berita-berita sepakbola nasional. Trus, langsammm, menuju Manari Kafe.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X