Yang Tercecer Dari Swami, Dalbo dan Kantata Taqwa – Jilid 4

- Kamis, 15 September 2022 | 11:35 WIB
Personil Kantata Taqwa  (Istimewa )
Personil Kantata Taqwa (Istimewa )

Sebelum dibentuk oleh lima personil, WS Rendra, Setiawan Djodi, Iwan Fals, Yockie Suryo Prayogo, dan menyusul nama Sawung Jabo, seharusnya ada satu sosok hebat asal Bandung yang terlibat, yaitu Harry Roesli. Hanya karena saat itu, jala tol Cipularang belum ada. Akhirnya, Harry Roesli hanya sekali-kali, hanya bisa tengok mereka berlima berproses.

Maklum Harry Roesli, dijamannya, sangat super padat, dalam membangun proses kreatifnya di Bandung. Sehingga, sulit tinggalkan lembaganya, Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB).

Yang asyik dalam berproses dan bermetaformosanya kelima manusia genius ini, versi mBah Coco, sejatinya punya tugas dan tanggungjawab yang tidak boleh saling overlap. Mas Willy bertugas, sebatas tukang mikir. Maklum, WS Rendra, adalah pencipta grup band TRILOGI KANTATA.

Setiawan Djodi, hanya sebatas tukang cari duit grup, agar bisa rekaman dan telorkan album. Saat itu, para kuli tinta musik, Setiawan Djodi dijuluki “maesenas”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari maesenas, adalah orang kaya, yang siap sebagai pendukung kebudayaan, atau pelindung kalangan warga berkesenian.

Iwan Fals dicetak hanya sebatas tukang cuap-cuap. Versi mBah Coco, dari WS Rendra, KANTATA TAQWA dan TRILOGI KANTATA, hanya untuk satu orang, bernama Virgiawan Listanto. Sebagai mestro albumnya. Yang lain, cukup sebagai pendamping vokal, jika diperlukan. “KANTATA hanya untuk Iwan Fals,” tegas Mas Willy.

Yockie Suryo Prayogo, menurut Jabo, tugasnya sangat berat sekali. Yaitu, merancang aransemen 10 lagu yang disiapkan. Tugasnya, tukang ngracik semua lagu-lagu, agar jadi musik yang enak didengar, menggelegar. Versi mBah Coco, musik garapan Yockie, setelah keluar dari GOD BLESS, memang sangat megah dan kolosal. Bunyi-bunyian dari sentuhan jarinya, bergaya orkresta classic.

Khusus, sebagai pemain cadangan, asistennya Setiawan Djodi saat direkrut masuk KANTATA TAQWA, maka tugas Jabo, diistilahkan sebatas “tukang bawa ember.” Artinya, versi mBah Coco, sebagai pemadam kebakaran. Jika, dalam pergulatan kreatif, keempat personil, saling protes dan saling eker-ekeran, dalam mencatatkan lirik dan musiknya.

“Kalau Mas Willy, Djodi, Yockie dan Iwan, saling nggak senang, protes dan tak ada yang mau ngalah, dalam mengolah kata, dan mendesain musiknya. Maka, aku jadi wasitnya,” tutur Jabo.

“Trus, saat di panggung, susunan posisi kabinetnya, piye Bo”? Tanya mBah Coco.

“Aku selalu tau diri, nggak perlu diatur-atur. Kalau, saat aku ikutan main alat musik, entah nyanyi, main gitar atau bedug. Aku sejajar posisinya dengan Iwan di atas panggung. Tapi, kalau aku hanya menjadi personil. Maka, hanya Iwan Fals yang terdepan, tak boleh ada orang lain, termasuk Djodi,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X