Azyumardi Azra, Pers, Tasawuf

- Minggu, 18 September 2022 | 15:37 WIB
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)
Akhlis Suryapati (Arsip Pribadi Akhlis Suryapati)

Masa-masa itu pula UIN men­dirikan Studio DnK-TV.  Nah pada urusan bikin siaran televisi komunitas inilah saya beberapa kali diundang mem­be­ri semacam kuliah umum – selain ngobrol-ngobrol sambil ngopi dengan pengelola DnK-TV.

Oh ya, kebetulan pula masa-masa itu saya sempat terbawa ngumpul dengan peminat tasawuf melalui Yayasan Barzah,  gegara mengantar paman saya, namanya Muhammad Zuhri, yang di yayasan itu disebut sebagai guru, rutin memberikan ceramah berbasis tasawuf di Jakarta.

Pemikirannya antara lain tertuang dalam buku karangannya bejudul  Langit-Langit Desa  (Mizan, 1993, pengantar Damardjati Supadjar dan Emha Ainun Nadjib).  Suatu saat Muhamad  Zuhri diundang talkshow mengenai tasawuf  berduet dengan  Azyumardi Azra. Saya terbawa,  karena nyopirin paman, tetapi ikut mendengarkan mereka adu pemikiran.

Di musim awal reformasi itu, banyak orang – termasuk kalangan selebriti – tiba-tiba ter­tarik tasawuf sebagai ilmu dalam Islam yang mengkaji masalah-masalah keduniawian ber­ba­sis Alquran dan Hadits.

Saya memahami secara gampangan, ini  Bidang Ilmu Filsafat – untuk ber­pikir mendasar bijaksana - berbasis pada ajaran Islam.

Azyumardi Azra adalah tokoh yang mendorong agar kita berpikir mendasar bijaksana un­tuk memahami persoalan-persoalan di dunia ini, termasuk menyikapi wacana-wacana ke­bang­­saan yang belakangan kerapkali membingungkan.

Tampilnya kelas menengah di In­do­nesia yang menggerakkan ekonomi pada tahun-tahun awal reformasi itu, oleh Azyumardi Azra, membutuhkan dakwah yang berifat tasawuf.  Sayangnya Muhammadiyah tidak tidak suka dengan tasawuf ini, kata Azyumardi di hadapan warga Muhammadiyah (30 Juli 2012).

Padahal menurutnya, masyarakat menengah saat ini memerlukan hal-hal seperti itu, bukan hanya berbicara tentang halal-haram.  Karenanya memerlukan model pengembangan dakwah ke arah itu, walaupun kemudian melakukan modernisasi seperti yang di­lakukan oleh Hamka.

"Kalau Muhammadiyah tidak menggarap ini, maka masyarakat mene­ngah akan ter­je­bak pada sudosufism, yaitu tasawuf palsu, bukan tasawuf beneran,” jelasnya.

Muham­madiyah se­bagai organisasi Islam modern, perlu melakukan perubahan model pembaruan sufisme dengan melakukan penyaringan kontennya.  Hilangkan saja hal-hal yang bertentangan dengan Muhammadiyahnya, seperti khurafat, tahayul dan bid’ahnya.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X