Mosaik Putri Diana (1): Diana, Putri yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

- Selasa, 20 September 2022 | 21:14 WIB
Putri Diana dan anak-anaknya. (Diana, Her True Story, Andrew Morton)
Putri Diana dan anak-anaknya. (Diana, Her True Story, Andrew Morton)

 

 

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

 

Putri Diana seperti tak pernah kehilangan pesona. Walaupun sudah lebih dari 25 tahun kematian Diana akibat kecelakaan di terowongan Place de l’Alma di Paris pada 30 Agustus 1997, nama Diana tetap saja moncer hingga kini. Bahkan saat mantan mertuanya Ratu Elizabeth II wafat dan mantan suaminya Pangeran Charles dinobatkan sebagai Raja Charles III, nama Diana tetap muncul dan menyeruak dalam ingatan kolektif begitu banyak orang. Jika kita mengamati berbagai media sosial, simak saja komentar para netizen dalam menanggapi berita tentang penobatan Pangeran Charles sebagai raja, misalnya. Sering sekali para netizen mengaitkannya dengan mantan istrinya, Putri Diana.

Gerangan apa yang membuat Putri Diana selalu bisa merebut simpati orang? Mulai dikenal orang setelah “pernikahan dongeng”-nya dengan Putra Mahkota Inggris Pangeran Charles, Putri Diana memang tak pernah lepas menyita mata dunia. Perceraiannya dengan Charles justru membuat namanya semakin terkenal dan dicintai orang. Ia merebut simpati masyarakat dan bahkan mendapat gelar “The People’s Princess” yang mengkontraskannya dengan monarki Inggris yang terkesan kaku.

Ketika Diana “bersengketa” dengan suaminya, publik mengungkit-ungkit perselingkuhan Charles yang bertahun-tahun dengan Camilla Parker Bowles—sambil “lupa” bahwa Diana punya sederet lelaki dalam kehidupannya.

Baca Juga: Mosaik Putri Diana (2): Perhatian Ratu Elizabeth kepada Diana

Waktu Diana muncul dalam wawancara dengan Martin Bashir di acara Panorama BBC pada 1995, yang dianggap “membuka aib” keluarga kerajaan Inggris, orang malah ramai-ramai mengecam monarki yang “dingin” dan mendukung senyum dan sapaan hangat Sang Putri dalam pelbagai kegiatan amalnya. Puncaknya ketika Diana dikabarkan meninggal dalam kecelakaan bersama kekasihnya Dodi Al-Fayed, opini publik menyalahkan apa saja: paparazzi yang tak peduli privasi, Ratu yang ketika itu “telat” mengungkapkan belasungkawa, atau bahkan ketidakkompetenan sopir dan pengawal.

Kisah Diana rupanya memang belum berhenti ditulis. Sejak kematiannya, selalu saja ada buku yang terbit, atau sekadar dicetak ulang dari buku-buku yang terbit semasa hidupnya—semisal Portrait of A Princess dan Diana: Her True Story karya Andrew Morton—atau buku semacam Shadows of A Princess yang ditulis sekretaris pribadinya Patrick Jephson pada 2000.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X