Prof Azyumardi Azra, Jejak Prasasti Anak Bumi Segala Bangsa

- Rabu, 21 September 2022 | 16:38 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

Berita Menggetarkan. 

Sebelumnya , ada dua berita yang bagi saya menggetarkan. Pertama berita Jumat, 16/9, mewartakan Prof. Azyumardi Azra menderita sesak nafas di atas pesawat manakala menuju Kuala Lumpur dan harus diberi alat bantu nafas. Semula diduga almarhum juga terjangkit covid-19, namun pemeriksaan terakhir di rumah sakit di Malaysia menunjukan hasil negatif. 

Dikabarkan juga anak keempat dari enam bersaudara kelahiran Lubuk Alung Padang Pariaman, Sumatra Barat, itu sampai di Malaysia bukan sekedar harus dilarikan ke rumah sakit, tapi juga sampai “ditidurkan.”

Saat itu hati saya sudah gelisah. Hanya sedikit pasien yang “ditidurkan” dapat _survive _ bertahan lebih panjang umur. Meski begitu, saya berharap dan berdoa semoga Pak Eddy, begitu dia biasa dipanggil orang atau kenalan lingkaran dekatnya, dapat melalui “pertarungan” itu dengan baik dan dapat sehat kembali. 

Sebuah harapan yang sia-sia. Hanya dua hari kemudian, minggu,18/9, siang , saya menerima kembali berita yang sudah saya khawatirkan: Pak Eddy telah menghembuskan nafas terakhirnya rumah sakit Serdang , Malaysia.

Menurut keterangan dari rumah sakit di Malaysia tersebut , yang dikutip para pejabat dan handai tolan disana, Pak
Eddy wafat karena serangan jantung. Inailahiwainailahirojiun. Dari Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta.

Kawan Lama. 

Pak Eddy merupakan kawan lama saya. Dia senior saya di pers mahasiswa. Umur kami selisih empat tahun. Lelaki beranak empat ini kelahiran 4 Maret 1955.

Pada masa itu kami sama-sama mengikuti berbagai pelatihan pers mahasiswa. Oleh lantaran itu tak aneh penggagas dan pengelola jurnal Ilmiah Studia Islamika, sejak awal sudah sangat menguasai teori-teori jurnalistik termasuk kaedah-kaedah bagaimana praktek menulis features dan opini.

Makanya sampai menjelang akhir hayatnya almarhum piawai membuat kolom opini. Isinya Singkat. Padat. Namun mengalir lancar dan enak dibaca. Beliau antara lain penulis tetap di Kompas. Sebelumnya juga pernah menjadi penulis kolom tetap di harian Republika. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X