Prof Azyumardi Azra, Jejak Prasasti Anak Bumi Segala Bangsa

- Rabu, 21 September 2022 | 16:38 WIB
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)
Wina Armada Sukardi (Arsip Pribadi)

Untuk itulah kami bersyukur dan Dewan Pers melakukan acara syukuran di lantai 7 Gedung Dewan Pers.  

Pada syukuran itu ayah empat orang anak ini memberikan potongan tumpeng, antara lain, kepada saya mewakili advokat Dewan Pers.
Setelah acara tersebut selesai, saya khusus “menghadap” beliau di ruang kerja almarhum yang juga terletak di lantai 7 Gedung Dewan Pers. Sebuah ruangan yang sederhana. 

Kami ngobrol sekitar dua jaman. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kelelahan, apalagi gejala serangan jantung. Dosen terbang dari berbagai universitas dalam dan luar negeri ini masih kelihatan penuh semangat. Masih energi. 

Dalam pertemuan itu kami banyak membahas rencana pers ke depan. Saya mencatat setidaknya ada lima gagasannya kala itu.
Pertama, Pak Eddy menghendaki agar Dewan Pers tidak eksklusif tapi juga dapat merangkul semua pihak, bahkan terhadap yang bukan pers sekali pun, termasuk media sosial. Menurutnya media-media itu pun perlu diperhatikan Dewan Pers.

Di matanya saat ini media sosial tak dapat dipungkiri memiliki peranan dan pengaruh yang luar biasa luas, sehingga tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa arah. Untuk itu, kami setuju dan bersepakat bakal membuat semacam pedoman penayangan informasi di media sosial.

Tentu saja pada awalnya pedoman ini hanya berlaku bagi yang mau mengikatkan diri saja. Kendati begitu, kelak diharapkan dapat semakin banyak yang mau mengikutinya. Kemudian akhirnya dapat menjadi “norma” standar dalam penayangan di media sosial. 

Kedua, almarhum ingin agar pers mahasiswa memperoleh perhatian yang lebih besar dari Dewan Pers. Penerima penghargaan Order of Rising Sun: Gold and Silver Star, dari Kaisar Jepang ini, menghendaki tradisi pers kampus dihidupkan kembali.

Dia mengingatkan, sebagian dari jumlah wartawan dan pimpinan pers sekarang ini pun berasal dari kalangan pers mahasiswa.
Pak Eddy sendiri berasal dari pers mahasiswa dan kemudian sempat akif di majalah Pandji Masyarakat. 

Ketiga, almarhum menegaskan ingin mempercepat pembentukan lembaga pertimbangan Dewan Pers sebagaimana telah diatur dalam statuta Dewan Pers sendiri. Dengan begitu, katanya, jika ada masalah internal perilaku anggota Dewan Pers, dapat lebih dahulu ditangani lembaga ini.

“Surat Keputusannya sudah kami siapkan,” katanya. 

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X