Mosaik Putri Diana (7): Dalam Kandang Harimau Betina

- Kamis, 22 September 2022 | 22:33 WIB
Headline koran-koran Inggris pada 15 November 1995 tentang wawancara Diana (Ready Susanto)
Headline koran-koran Inggris pada 15 November 1995 tentang wawancara Diana (Ready Susanto)

 

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

Wawancara Putri Diana dengan Martin Bashir dari BBC telah membuka mata publik akan kegersangan dalam perkawinannya. Inilah lanjutan cuplikan penuturan Patrick Jephson.

Pada malam acara itu ditayangkan, dia menghadiri suatu makan malam amal yang gemerlap. Ini memungkinkan dia tampil sesuai citra seperti yang dia dan orang-orang inginkan. Sementara citranya yang lain tampil melalui layar kaca secara simultan pada jam tayang utama televisi. Sepulang acara makan malam itu, aku keluar dengan pembantunya, Anne Beckwith-Smith, untuk menonton rekaman acara Panorama. Aku dan Anne duduk di sofa, minum wiski dan membiarkan rekaman terus berputar. Keluhan dan tawa dongkol muncul seperti kemuakan pada bibir kami. Kemudian kami mengeluarkan seruan pendek tertahan. Akhirnya, kami menonton dengan diam sampai kami tidak tahan lagi. Anne mematikan teve, dan wajah pucat dengan coreng-moreng serta mata yang hitam menghilang dari layar. Ini seperti seorang bocah kecil yang menghentak-hentakkan kakinya dan berharap orang dewasa akan memperhatikan apa yang dia katakan.

Aku bangun dengan lelah dari sofa yang telah menjadi tempat berlindungku. “Jadi, begitulah,” kataku.

Anne telah mundur dari jabatan asisten sekretaris pribadi Putri sejak lima tahun lalu. Kini, sebagai pembantu paro waktu yang hidupnya dia atur sendiri, Anne relatif nyaman dalam posisi penonton. Saat dia mengantarku ke jalanan yang dingin, dia mengucapkan selamat atas rencana kepergianku ke Argentina.

“Sudah cukup kartu emasmu itu kini,” katanya.

“Tentu saja,” kataku. ”Kau benar.....” Aku telah bekerja untuk Putri selama lebih dari delapan tahun sebagai pengurus kuda, asisten sekretaris pribadi, dan kini sekretaris pribadi.”

Well, lalu,” kata Anne. “Ini waktunya untuk mengundurkan diri.”

Aku menghabiskan malam tanpa istirahat, bangun terlambat dan mendapatkan diriku yang resah di perhentian bus di Wandsworth Bridge Road, menanti bus atau taksi yang akan membawaku bekerja. Aku tahu telepon di kantorku akan berdering karena Putri ingin tahu reaksiku terhadap apa yang telah kusaksikan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB

Puan Maharani dan The Last Samurai

Jumat, 23 September 2022 | 23:55 WIB

Mosaik Putri Diana (12): Konflik dengan Kesusilaan

Jumat, 23 September 2022 | 23:44 WIB

Mosaik Putri Diana (11): Paranoia Diana Semakin Parah

Jumat, 23 September 2022 | 09:26 WIB

Mosaik Putri Diana (9): Blusukan dan Jadi Incaran Pers

Jumat, 23 September 2022 | 09:08 WIB
X