Mosaik Putri Diana (7): Dalam Kandang Harimau Betina

- Kamis, 22 September 2022 | 22:33 WIB
Headline koran-koran Inggris pada 15 November 1995 tentang wawancara Diana (Ready Susanto)
Headline koran-koran Inggris pada 15 November 1995 tentang wawancara Diana (Ready Susanto)

Aku menghabiskan malam tanpa istirahat, bangun terlambat dan mendapatkan diriku yang resah di perhentian bus di Wandsworth Bridge Road, menanti bus atau taksi yang akan membawaku bekerja. Aku tahu telepon di kantorku akan berdering karena Putri ingin tahu reaksiku terhadap apa yang telah kusaksikan.

Angin mengandung es bertiup. Langit yang kelam dan komuter yang berjubel penuh penumpang menggambarkan suasana hatiku. Seperti sedang menyandang sebungkah plutonium murni, aku dengan enggan mengambil telepon genggam dari saku dan menyalakannya. Sekejap ponsel mengeluarkan suara yang mengganggu saraf. Diriku serasa mati, dengan gigi gemeletuk dan lumpur basah di sekitar kaki, aku mengatakan kepada Putri bahwa penampilannya itu luar biasa dan koran-koran penuh dengan berita itu. Padahal, aku bahkan belum berani membaca sebuah koran pun.

“Apa kata mereka,” tanyanya bersemangat. Dia pasti sudah tahu. Aku mungkin orang kelima yang telah dia tanya dan dia pasti telah membaca koran-koran itu sekarang.

“Agak kacau,” kataku. “Bisakah saya menelepon Anda setelah mendapatkan telepon yang lebih baik?”

“Baiklah,” katanya, kini bernada datar.

Kami tidak sempat berbicara lagi sepanjang hari. Kami berdua bersyukur bahwa program itu telah menjadi sebuah kemenangan public relations, tetapi itu pun hanya bagi mereka yang memang sudah mendukungnya. Inilah bukti yang mereka butuhkan untuk segera memotong tali yang membelit kebebasan Putri.

Baca Juga: Mosaik Putri Diana (5): Menyimpan Pisau dalam Tas Tangan

Panorama sering disebut-sebut sebagai penyebab, di antara penyebab yang lain, mengapa aku mengundurkan diri. Dalam soal ini, itu hanyalah satu-satunya alasan (yang terkuat) dari beberapa penyebab yang telah meruntuhkan loyalitasku. Semangat membaktikan diri yang samar-samar kuingat sejak hari pertamaku sebagai pengurus kuda telah lama digantikan oleh suatu keyakinan mantap kepada Putri sebagai kekuatan kebaikan, apapun kelemahan manusiawinya. Hal ini pada gilirannya, bagaimanapun, telah tergantikan oleh sinisme ketika aku dengan susah payah merenungkan tugas menggalang kredibilitas publik Putri di hadapan instink merusaknya.

Bertahun-tahun menghadapi sifat bos yang berubah-ubah dan terkadang menerapkan pendekatan yang kejam terhadap para pembantunya, aku merasa lebih sadar akan berakhirnya karier profesionalku. Aku tahu bahwa hidupku sama dengan yoghurt yang selalu mengisi penuh lemari es Istana Kensington.

Aku berharap dalam benakku dan benak Putri ada potret Putri yang ramah dan seorang pelayannya yang loyal. Tetapi pada tingkatan yang lebih dalam, hidupku telah menjadi permainan catur yang rumit, dan masa yang tepat untuk kebebasanku telah lama kutunggu—jauh sebelum penayangan Panorama.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X