Mosaik Putri Diana (9): Blusukan dan Jadi Incaran Pers

- Jumat, 23 September 2022 | 09:08 WIB
Diana tidak pernah lepas dari incaran media.  (Sumber: Istimewa)
Diana tidak pernah lepas dari incaran media. (Sumber: Istimewa)

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

“Sepanjang 1995, kami telah memenangkan serangkaian ‘perang’ dengan mereka yang ingin membatasi kesempatan Diana untuk mengekspresikan bakat istimewanya sebagai seorang selebritis. Tetapi setiap kali kami melakukan pelbagai kunjungan keluar negeri, semakin kuat pula perasaan bahwa kami menghadapi ’perang’ yang akhirnya tak akan kami menangkan,” tulis Jephson. Inilah lanjutan penuturan Jephson mengenai pergulatan Diana.

Pada titik tertinggi, “perang” ini adalah usaha Putri Diana untuk memantapkan diri sebagai seorang yang mandiri. Pada titik terendah, bagaimanapun juga, ini adalah sebuah usaha untuk mengendalikan setiap orang dan segala hal yang mungkin dia raih.

Semakin banyak bahaya, “rencana jahat”, pengkhianatan, dan ketidakadilan yang Putri Diana rasakan dan bayangkan, semakin hebat pula perasaan  bahwa dia adalah tumbal. Usaha untuk mengendalikan semua itu, dengan kekerasan jika perlu, tampaknya merupakan satu-satunya jalan agar dia merasakan aman.

Usaha Putri Diana untuk memainkan peran membawa kami ke situasi-situasi yang aneh. Misalnya ketika kami pada suatu malam dengan penuh perhatian menonton seorang pria yang sedang diawasi oleh polisi di King’s Cross. Orang kedua tampak di layar, menyeruak di antara sepasang pejalan kaki. Aku melihat uang berpindah tangan. Tiba-tiba kedua orang itu menghilang dalam sebuah gang.

Apa yang kemudian terjadi membuat Putri menjerit ngeri. Sambil celingak-celinguk, orang pertama memerosotkan celana jeansnya dan membungkuk ke depan. Aku baru saja berpikir bahwa dia akan buang air ketika tangannya menghilang di bagian bawah celana dan muncul kembali dengan sebuah kotak kecil. Dengan cepat dia memberikan kotak itu kepada konsumennya. Lalu dengan cepat pula orang itu membetulkan ikat pinggang dan kembali ke jalan.

Kedua telapak tangan Putri tampak menutupi wajahnya. Rasa terkejut atas apa yang baru dilihatnya masih terbayang jelas di matanya ketika dia mengintip dari balik jari-jari. Dia memandangku dan terkekeh-kekeh. Hal-hal yang agak cabul kadang-kadang membuatnya terkekeh-kekeh. Inspektur polisi yang duduk di sebelah Putri mematikan video dan mengambil jaket kulitnya. Aku melihat Putri mencermati penampilan sang inspektur ketika kami pergi.

Putri mengikuti sang inspektur dengan patuh. Matanya sungguh-sungguh meredup, seperti menahan bayangan yang baru saja dia lihat. Aku tahu dia sedang merasa senang—dia terpesona pada apa yang terlarang.

Dua menit kemudian kami sudah berada di jalanan yang masih sibuk. Putri Diana, simbol kaum terhimpit dan kampiun orang-orang terkucil, sedang memulai perjalanan mencari fakta “rahasia” yang lain lagi.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB

Puan Maharani dan The Last Samurai

Jumat, 23 September 2022 | 23:55 WIB

Mosaik Putri Diana (12): Konflik dengan Kesusilaan

Jumat, 23 September 2022 | 23:44 WIB

Mosaik Putri Diana (11): Paranoia Diana Semakin Parah

Jumat, 23 September 2022 | 09:26 WIB

Mosaik Putri Diana (9): Blusukan dan Jadi Incaran Pers

Jumat, 23 September 2022 | 09:08 WIB
X