Mosaik Putri Diana (10): Desakan untuk Bercerai dengan Charles

- Jumat, 23 September 2022 | 09:16 WIB
Diana di Argentina.  (Sumber foto: Istimewa)
Diana di Argentina. (Sumber foto: Istimewa)

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

Meskipun dia membicarakan mengenai kedua kekasihnya, Will Carling dan James Hewitt, aku ragu apakah dia benar-benar mengerti apa yang sesungguhnya dia maksudkan: mengenai suksesi ataukah cinta. Mengenai ambisinya untuk menjadi duta besar atau “Ratu di hati Rakyat”, tidak ada hal yang baru bagiku, atau bagi siapapun yang pernah mendengar pernyataan-pernyataan manis ini pada bulan-bulan sebelumnya.

Musuh utama Putri Diana, seperti juga dihadapinya pada masa lalu, adalah dirinya sendiri. Kecenderungannya untuk menyepelekan persoalan dan melakukan serangan menghancurkan terhadap setiap usaha konsensus perdamaian—dengan suaminya, Istana Buckingham, atau kekuatan-kekuatan mapan yang lain—akhirnya membuatnya menjadi seorang yang harus melakukan aksi sendirian.

Setiap bantuan yang dia minta mungkin diilhami oleh rasa tertarik dan simpati pribadi kepada orang, bukan karena respek dan tugas yang dia emban. Aku berpikir bagaimana mungkin dia akan mendapatkan ketenangan batin jika arti pemberian itu dikontrol oleh orang-orang yang selalu ingin mendapat balasan atas dukungan mereka—apakah itu berkaitan dengan pesawat jet, liburan, proyek hewan peliharaan, atau bahkan cinta.

Ironisnya dia melihat apa yang dia lakukan itu sebagai pemenang atas kekuatan-kekuatan yang mencekik dirinya. Padahal dia hanya mempercepat apa yang telah lebih dulu dikerjakan dengan sia-sia oleh musuh-musuhnya.

Sekretaris pribadi yang lebih baik tentu akan berhasil merajut kembali suatu pendekatan dengan keluarganya. Walhasil, ini adalah salah satu kesalahanku, tidak bisa bertahan dalam situasi semacam ini. Betapapun demikian, Putri Diana toh bisa menghadirkan saat-saat yang lebih menyiksaku sebelum aku mengundurkan diri.

Perjalanan ke Argentina cukup berwarna-warni dan merupakan suatu jeda dari krisis yang dialami di tanah air. Satu-satunya “cacat” adalah tertundanya keberangkatan kami karena Putri bingung mencari kartu telepon genggam bernomor khusus yang diperlukannya untuk menerima telepon dari Carling selama perjalanan.

Untuk beberapa saat, ketika Putri Diana bergembira dalam kerumunan orang di bawah matahari Amerika Selatan, aku pikir semuanya akan berakhir dengan baik. Namun ketika balik ke London yang kelabu, kenyataan telah menunggu.

Putri selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan telah mempersiapkan acara Panorama. Dia telah merancang suatu momen pelepasan emosi yang memuaskan di depan kamera. Meskipun demikian, dia tidak membuat suatu rencana apa pun dalam menghadapi gelombang yang telah dia timbulkan—paling tidak, tampaknya, bagi dirinya sendiri.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB

Puan Maharani dan The Last Samurai

Jumat, 23 September 2022 | 23:55 WIB

Mosaik Putri Diana (12): Konflik dengan Kesusilaan

Jumat, 23 September 2022 | 23:44 WIB

Mosaik Putri Diana (11): Paranoia Diana Semakin Parah

Jumat, 23 September 2022 | 09:26 WIB

Mosaik Putri Diana (9): Blusukan dan Jadi Incaran Pers

Jumat, 23 September 2022 | 09:08 WIB
X