Mosaik Putri Diana (11): Paranoia Diana Semakin Parah

- Jumat, 23 September 2022 | 09:26 WIB
Diana dalam wawancara dengan Martin Bashir (Istimewa)
Diana dalam wawancara dengan Martin Bashir (Istimewa)

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

“Aku menganggap Putri sebagai ‘mereka’ karena kini aku seperti berurusan dengan beberapa kepribadian dalam tubuh satu orang. Aku seperti berhadapan dengan segerombolan orang,” tulis Jephson tentang kepribadian Diana yang semakin tidak stabil karena pelbagai tekanan dalam perkawinannya. Inilah lanjutan penuturannya.

 

Ketika berada di bawah tekanan, suasana hati Putri Diana bisa berubah drastis hanya dalam satu helaan napas—dari pribadi rapuh yang bersuara-pelan ke pribadi yang dingin dan kejam. Begitu banyak suara yang tampaknya ingin disampaikan sehingga sulit menebak apa yang sesungguhnya sedang dia pikirkan. Pada puncaknya, paranoia yang diderita Putri mencapai tahapan yang lebih parah. Dia melihat rencana jahat ada di mana-mana. Dia dihantui perasaan sedang diawasi dan mengatakan kepadaku dengan sungguh-sungguh bahwa tali rem mobilnya telah dipotong. Dia bahkan menatap langsung ke mataku, mengatakan bahwa seseorang bersenjata api sedang mengincarnya di Hyde Park.

Aku telah memeriksa semua yang dia katakan itu, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah apa yang selama ini kuketahui: ancaman-ancaman itu hanya imajinasi saja.

Setelah mendengar suatu cerita tentang penyadapan, aku memperlihatkan rasa heran karena tidak ada satu pun mikropon tersembunyi yang ditemukan. “Ikut aku,” katanya, tampak merah padam.

Di sebuah ruangan di tingkat atas, dia berlutut dan menarik sehelai karpet. Dia meletakkan sebuah jari di bibirnya, membuat gerakan isyarat agar aku memperhatikan lantai. Lantai itu baru saja diperbaiki. Dia menunjuk tanpa suara ke arah debu gergaji dan mengangguk penuh arti.

Aku tak mengatakan sepatah katapun hingga kami tiba di bawah. “Ma’am, anda tahu bahwa lantai itulah yang telah dipasangi kabel baru?” Memang itulah yang terjadi. Setelah kebakaran Windsor, lantai itu dirombak besar-besaran dan sejumlah besar kabel digunakan untuk memperbaiki kembali aliran listrik di istana ini. Dia tampaknya tak mendengarkanku. Pandangan matanya sudah cukup memperlihatkan hal itu. Tampaknya harus jujur kukatakan bahwa pada titik itu perasaanku tidak lagi berada pada kondisi yang normal. Aku merasa lelah, sangat lelah. Aku merenungkan diriku yang berada dalam kemunafikan dan sejenis kekejaman yang tidak terjelaskan. Pribadinya silih berganti, kadang memikat kadang kacau balau. Tetapi belakangan ini tampaknya kesemrawutan itu mendominasi dirinya.

Aku menyadari sejak dulu bahwa bekerja untuk keluarga kerajaan belum tentu cocok bagi semua orang. Bukan saja karena ada saat-saat ketika kita harus menerima begitu perubahan-perubahan sebagai bagian dari tugas dan dedikasi. Setiap orang, dari sekretaris pribadi hingga kepala pelayan, pengurus pakaian dan pengawal pribadi, mengetahui hal ini. Mereka menerima itu sebagai bagian dari pengabdian, atau mereka keluar.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X