Mosaik Putri Diana (12): Konflik dengan Kesusilaan

- Jumat, 23 September 2022 | 23:44 WIB
Patrick Jephson, Diana, dan buku Shadows of A Princess
Patrick Jephson, Diana, dan buku Shadows of A Princess

Aku ingat perumpamaanku tentang seseorang yang terperangkap di kandang harimau. Barangkali inilah saatnya untuk melompat ke lubang. Harimau itu tampaknya sudah cukup kacau sehingga aku bisa lolos.

Betapa bersalahnya aku. Aku telah menjadi korban dari gaya agresi Sang Putri, yang dengan cerdik serta lihai menggabungkan senyum berseri-seri dengan pisau berkilat-kilat. Dia sangat berterima kasih atas loyalitasku setelah Panorama. Kami telah menikmati perjalanan yang menyenangkan ke New York pada awal Desember. Tetapi semua ini, termasuk pengakuan menghancurkan tentang Tiggy, adalah awal dari berbaliknya perilaku Putri sejak tahun baru.

Sekali lagi, Putri merasa bahwa dia telah mengungkapkan rahasia terlalu banyak, mengizinkan seseorang terlalu dekat. Setelah semua yang dilakukannya itu, tidak mungkin lagi aku “menemukan kembali” dirinya. Inilah saatnya bagiku untuk bertindak.

Alat yang dipilih adalah pager. Seperti juga telah dialami orang lain, aku kini menerima pesan-pesan jahat. Aku sedang duduk dalam kereta yang kosong melompong pada suatu malam di bulan Januari, memperhatikan Wiltshire yang kelam, ketika mendadak aku ditikam ketakutan melalui suara panggilan yang akrab di penyerantaku. Aku meraba-raba tombol untuk menghentikan getaran sura reptil yang mengerikan itu. Kemudian aku memandang tak paham pada pesan itu: “Bosmu mengetahui ketidakloyalan dan perselingkuhanmu.”

Pesan itu anonim. Aku membacanya beberapa kali sebelum kejahatan dalam pesan itu menghilang. Waktu pengirimannya tepat, tetapi karena kereta tertunda, aku tidak menerima pesan itu ketika masuk di pintu depan. Aku jadi tahu bahwa pesan itu berasal dari Putri. Dia selalu tepat waktu.

Serangkaian pesan jahat telah diterima oleh para staf suaminya. Tak seorang pun ragu dari mana pesan-pesan itu berasal. Baru-baru ini, sopir Putri sendiri—yang telah lama menjadi objek prasangka tak terbuktikan—bercerita padaku sambil menangis mengenai pesan penyeranta yang menghinanya.

Aku sendiri yang menangis saat ini. Aku tahu bahwa serangan atas profesionalisme atau reputasi pribadi akan merupakan pembalasan Putri begitu dia tahu bahwa aku sudah berada di luar kendalinya. Aku juga tahu bahwa suatu hukuman yang mengerikan dapat dia lakukan jika dia menggunakan kekuatan medianya.

Jika ini terjadi pada kehidupan pribadiku .… ketakutanku semakin dalam. Aku tahu aku tak pernah berselingkuh dengan seseorang. Tetapi itu hal kecil yang tidak penting bagi seseorang yang bisa menuduh pengasuh anaknya sendiri. Aku tak mengatakan kepedihan hatiku pada seorang pun kecuali Tuhan—berkali-kali pada saat aku tak bisa tidur di malam hari. Dia telah mendengarkan lebih banyak sebelumnya.

***

Akhirnya Patrick Jephson memutuskan mengundurkan dari sebagai Sekretaris Diana. Bagaimana komentar Diana? Ikuti terus dalam Mosaik Diana (13): “Paling Tidak Kita Bisa Berjabat Tangan”

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X