Mosaik Putri Diana (13): “Paling Tidak Kita Bisa Berjabat Tangan”

- Jumat, 23 September 2022 | 23:59 WIB
 (Getty Image)
(Getty Image)

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

Sekian lama mendampingi Putri Diana sebagai sekretaris pribadi, melalui masa-masa sulit dan menegangkan, akhirnya Jephson mengundurkan diri dari jabatannya itu. “Suaranya terkendali dengan hati-hati, tetapi di matanya aku bisa melihat keprihatinan dan kesedihan,” kata Jephson mengenang saat-saat terkhirnya berjumpa dengan Putri Diana.

 

Esok harinya aku mendapat kesempatan untuk menghadap Putri. Ini bukan reaksi yang tepat dari seorang korban, tetapi hanya berbicara dengan sopir Putri, aku naik darah juga walaupun terlambat.

Ma’am,” kataku memulai, “Saya telah menerima pesan pendek yang keji di penyeranta saya, begitu pula beberapa orang lain.” Aku menyebut nama mereka. “Saya harus bertanya. Apakah anda mengirimkan pesan-pesan itu?” Kelopak matanya melebar dengan pandangan tak berdosa yang sebelumnya telah sering kulihat. Seperti kuduga, dia menjawab dengan pertanyaan. “Untuk apa saya melakukan hal seperti itu? Kamu harus mengabaikan pesan-pesan itu. Saya juga menerima pesan-pesan seperti itu.”

Kecurigaan telah menjadi kepastian dalam benakku. Aku mendengar diriku mengatakan, “Ma’am, saya kira sekarang waktunya saya pergi. Anda akan segera bercerai dan memulai hidup baru yang penuh peluang baru. Saya adalah masa lalu bagi anda. Saya kira anda harus mencari orang baru untuk membantu anda pada masa mendatang.”

Dia menatapku dengan saksama. Tak seorang pun pernah “melemparkan kotoran” kepada Putri Wales. Pada petang itu juga aku memberi tahu Robert Fellowes. Simpati dari Fellowes dan kemudian dari Ratu, yang sebelumnya tak pernah terbayang bisa kuperoleh, sangat menyentuh bagiku lebih daripada yang mungkin keduanya bayangkan.

Esok harinya, aku mengirimkan memo tertulis yang dengan hati-hati mengulangi pernyataanku sebelumnya. Aku katakan bahwa telah tiba waktuku untuk pergi, tetapi jika dia mau, aku akan menunggu sampai bisa merekrut seorang pengganti. Aku juga mengulangi tawaran untuk tetap tinggal sampai tindakan hukumnya yang terbaru diputuskan.

Aku meminta sekretarisku untuk segera mengantarkan memo itu ke Istana Kensington. Telepon yang ditunggu berdering kurang dari satu jam kemudian. Putri menjadi histeris. Suaranya kehilangan kendali dan memperlihatkan emosi yang kasar.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 06:23 WIB

Mosaik Putri Diana (30): Kronologi Kehidupan Diana

Jumat, 30 September 2022 | 11:31 WIB

Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB

Mosaik Putri Diana (28): ‘Berhati-hatilah, Paul’

Selasa, 27 September 2022 | 08:18 WIB

Mosaik Putri Diana (27): Diana Tak Ingin Mampir ke Paris

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Mosaik Putri Diana (25): 'Dia Tidak Cocok untuk Putri'

Senin, 26 September 2022 | 09:55 WIB

Mosaik Putri Diana (24): Dodi Bukan Cinta Sejati Diana

Senin, 26 September 2022 | 08:20 WIB

Mosaik Putri Diana (23): Diana-Charles Saling Mencinta

Minggu, 25 September 2022 | 21:51 WIB

Mosaik Putri Diana (21): Para Pria di Sekitar Diana

Minggu, 25 September 2022 | 21:35 WIB

Mosaik Putri Diana (19): Naik Gondola Tengah Malam

Minggu, 25 September 2022 | 08:47 WIB

Mosaik Putri Diana (17): Dodi Tak Ingin Dikawal

Sabtu, 24 September 2022 | 13:12 WIB

Mosaik Putri Diana (15): “Dia Pribadi yang Rumit”

Sabtu, 24 September 2022 | 12:55 WIB
X