Mosaik Putri Diana (13): “Paling Tidak Kita Bisa Berjabat Tangan”

- Jumat, 23 September 2022 | 23:59 WIB
 (Getty Image)
(Getty Image)

Ia mengulang-ulang satu tema, dengan nada berubah-ubah dari sedih hingga kejam. Apa yang telah dia lakukan sehingga harus menerima semua ini? Aku berusaha mengulangi apa yang telah kusebutkan dalam memo, tetapi dia tidak mendengar atau tidak ingin mendengar penjelasanku. Akhirnya, suaranya menjadi tajam, datar, dingin. “Saya harus memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapmu.” Lalu suara klik. Dia pergi, mencoba menghibur diri.

Semestinya aku telah pergi sejak saat itu, namun suatu alasan masokis mendorongku untuk masuk kantor esok paginya. Di mejaku, aku menemukan sebuah surat yang ditulis di atas kertas catatan Putri. Surat sederhana itu dikonsep dengan bantuan ahli hukum, isinya secara tak masuk akal melarangku mengirimkan memo lain kepadanya. Tampaknya seseorang telah gagal mengecek ketikannya. Itu tidak masuk akal. Lagi pula, siapa yang telah mengetiknya?

Ketika aku menduga-duga akibatnya, aku tahu bahwa Putri telah menelepon beberapa teman dan kenalanku yang mungkin dapat membantuku mencari kerja. Telepon-telepon itu tentunya dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa aku orang yang tidak tepat untuk dipercayai.

Aku juga mengetahui bahwa Daily Mail telah berencana menurunkan berita pada Selasa depan, 23 Januari, bahwa Putri telah memecatku karena ketidakkompetenan profesional. Ini bukan lagi suatu pengunduran diri. Ini sebuah adu-cepat.

Aku bangun lebih awal pada Senin, 22 Januari, mendapat izin audiensi dengan Putri pada pukul 10.00, dan meninggalkan surat pengunduran diriku pada sekretaris pers Ratu, siap diumumkan menunggu sinyal dariku. Kemudian, setelah merasa agak tenang, aku naik taksi, melakukan perjalanan rutin untuk terakhir kalinya.

Di Istana Kensington aku diterima oleh kepala pelayan yang memintaku menunggu di Ruang Equerries’. Aku menunggu dan menunggu. Ruang itu penuh kenangan. Karpet yang kugunakan tampak lusuh. Di sebelah sana, meja tempat aku mengerjakan pekerjaan harianku. Sebelah sana lagi, rak minum lapuk tempat aku biasa menguatkan diri pada malam-malam di opera. Dan akhirnya, ada suara akrab langkah-langkah kaki Putri yang mendekat. Dia memakai pakaian biru pucat, yang aku ingat, akan dipakainya untuk makan siang dengan dubes Argentina—makan siang yang kemudian dibatalkannya. Dia tampak pucat, tertekan, dan gugup. Dia membawa amplop tertutup di tangannya dan saat kami duduk berhadapan dia mengangkat amplop itu. “Soal apa ini?” tanyanya. Suaranya terkendali dengan hati-hati, tetapi di matanya aku bisa melihat keprihatinan dan kesedihan.

“Saya khawatir itu surat pengunduran diri saya, Ma’am.”

“Mengapa?”

“Karena saya rasa hubungan kerja kita telah berakhir. Mungkin ini kesalahan saya, tetapi dalam pelbagai soal, saya kira hal ini tak akan membaik. Saya kira semuanya hanya akan memburuk.”

“Saya mengerti.”

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kekalahan itu Guru.

Rabu, 30 November 2022 | 04:34 WIB

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB
X