Mosaik Putri Diana (29): Kami Hanyalah Orang Biasa

- Rabu, 28 September 2022 | 13:05 WIB
Earl Charles Spencer dan Diana pada 1984. (News Group Newspapers Ltd)
Earl Charles Spencer dan Diana pada 1984. (News Group Newspapers Ltd)

Oleh Ready Susanto, penulis sejumlah buku biografi tokoh

 

Peringatan kematian Diana setiap tahunnya dipusatkan di Istana Althorp—istana keluarga dan tempat peristirahatan terakhir Diana yang kini juga menjadi museum seharga 4,1 juta dolar. Dalam peringatan keempat pada 2001—yang istimewa karena diadakan pada 1 Juli, menandai hari di mana Diana akan berusia 40—adiknya Earl Charles Spencer menuturkan kenangan dan harapannya.

 

Duduk dalam sebuah pesawat dari Cape Town ke London pada 1 September 1997, Charles Spencer ter­sedu-sedan antara rasa tidak percaya yang kuat dan kesedihan yang melilit. Empat puluh jam sebelumnya, saudaranya Put­ri Wales, Diana, tewas dalam sebuah kecelakaan me­nge­rikan di Paris. “Saya melayang ber­ganti-ganti, antara pemikiran bahwa peristiwa ini ti­dak benar-benar terjadi,” kenangnya, “dan pemikiran bahwa saya harus menghadapi kenyataan ini.” Untuk mengalihkan perhatiannya, Spencer menghabiskan wak­tu merenungkan pemakaman sau­daranya itu. “Sa­ya berpikir si­apa yang akan me­nyampaikan eu­lo­gi,” kata Spencer. “Saya me­lihat ke buku alamat saya dua kali dan menyadari bahwa mung­kin sayalah yang ha­rus me­la­kukan hal itu. Itu suatu hal yang menge­rikan—rasa dingin menerpa saya.”

Empat hari kemudian, memang Earl Spencer IX—demikian gelar Charles Spencer—naik mimbar Gereja West­minster Abbey, London, untuk menyampaikan eulogi yang menggemparkan. Isinya sebagian meru­pa­­kan pujian dan penghargaan, sebagian lagi meru­pakan tangisan “pe­pe­rangan”. Di hadapan sekitar satu milyar khalayak di selu­ruh penjuru dunia, Spen­cer memuji saudaranya yang ia sebut “kompleks” dan “cemerlang”. “Kami, keluarga se­darahmu, akan mela­ku­kan apapun untuk meneruskan ja­lan yang imaji­na­tif dan penuh kasih,” janjinya, sambil menatap lekat kepada kedua keponakannya, Pangeran William dan Harry. “Saya bukannya ingin membuat pe­ngaruh be­sar,” katanya. “Saya hanya mencoba bersikap adil ke­pada sau­dara saya.”

Baca Juga: Mosaik Putri Diana (26): ‘Amerika adalah Tujuan Takdirku’

Disengaja atau tidak, pengaruh yang ditimbulkan pidato itu jauh melewati dinding-dinding beton gereja bersejarah itu. Dalam sekejap, Spencer telah berubah dari saudara laki-laki kecil Diana menjadi seorang pem­bela Diana yang tegas. Ketika Ratu mencopot ge­lar Her Royal Highness Diana setelah perceraiannya dengan Pangeran Charles pada 1996, Charles Spencer hanya diam. Dia juga di­am ketika ke­luarga kerajaan menyingkirkan Diana pada tahun-tahun menjelang kematiannya. Namun, dia rupanya tak ingin te­rus di­am. Pidato itu “benar-benar pembelaan yang sangat ksatria terhadap Diana,” kata penulis kerajaan Robert La­cey.  Pembelaan Spencer itu telah me­ma­tri tempatnya da­lam hati para penga­gum Diana.

Diana Berusia 40

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: opini

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X