Harkat Martabat

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:38 WIB
Wahyu Atmaji,Wartawan,Peminat Seni,Sastra dan Budaya (bng)
Wahyu Atmaji,Wartawan,Peminat Seni,Sastra dan Budaya (bng)

Oleh Wahyu Atmaji,Wartawan ,Penulis,Peminat Seni,Sastra dan Budaya

Seberapa besar nilai harkat dan martabat manusia itu ?
Ada jenderal membunuh demi alasan itu. Ada amuk masa yang patut diduga awalnya dipicu karena alasan yang sama, kemudian diperparah akibat salah pengendalian oleh aparat, sehingga banyak korban kehabisan oksigen. Ada pula suami bunuh isteri, dua bersaudara saling bunuh, dan ragam cerita lainnya. Nyawa dan keselamatan lain tak lagi dipedulikan jika kehormatannya merasa direndahkan.
Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk Tuhan yang dibekali cipta, rasa, karsa, dan hak-hak serta kewajiban azasi manusia. Martabat adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat. Sayangnya tingkatan dan persepsi terhadap harkat dan martabat itu beda antara satu dan lainnya.
Terlebih jika dalam kerumunan, selalu ada faktor psikologi sosial, semangat bersama. Ego kolektif yang hanya dikompori sebagaian orang akhirnya bisa menyeret lebih banyak orang sebagai bentuk solidaritas. Pihak yang merespon caos ini, bisa aparat yang mustinya mengamankan, juga berkemungkinan terpancing dan melakukan yang tidak semestinya.
Dalam hidup tidak ada masalah luar biasa yang harus disikapi anarkhi apalagi membunuh. Semua musti dinalar dan dipertimbangkan. Karena biasanya pelakunya akhirnya menyesal. Sesal kemudian tak akan mengubah yang sudah terjadi.
Dalam unjuk rasa terhadap penguasa yang paling ditakutkan oleh para aktifis adalah adanya infiltrasi, penyusupan, oleh pihak yang ingin memperkeruh. Ini juga memanfaatkan hukum psikologi massa di mana mereka akan makmum atas apa yang dilakukan kelompoknya.
Inilah metode yang kerap digunakan aparat jika kesulitan membubarkan aksi massa yang mengancam stabilitas umum. Setidaknya itu terjadi menjelang jatuhnya Orde Baru.
Bahwa akhirnya cara kontra intelejen ini yang digunakan itu soal lain. Di tengah siruasi tak terkendali, caos, mana benar mana salah, mana spontan mana terncana, sulit dibedakan. Kerusuhan menjelang dan pasca turunnya Soeharto 1998 hingga kini masih jadi bahan diskusi. Apakah direncanakan sistematis atau respon spontan massa.
Kembali kepada pengendalian emosi diri. Ukuran kesabaran, "panjang usus" tiap orang pasti beda. Lingkungan dan tingkat literasi amat menentukan. Semakin "pendek sumbu", mudah marah gampang tersinggung, mudah dikompori, maka seperti tubuh banyak knop. Setiap knop tersenggol akan marah dengan derajatnya masing-masing. Semakin banyak knop yang memungkinan marah dipastikan orang ini gampang marah. Mudah emosi meski kadang tak berani melampiaskan.
Ada teman yg memberi resep sederhana saat akan marah. Tahan marah dan hitung sampai 15 jika akan meledak marah. Jika masih emosi juga, kalikan dua. Itu berlaku kepada pihak lain.
Jika kepada teman seseprai bagaimana ?
"Jangan berhenti menghitung. Ulangi dan ulangi lagi sampai kesabaranmu normal lagi !"

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X