Menatap Prospek Bisnis Penerbangan 2023 : Oleh Dr Ira Purwitasari

- Selasa, 4 Oktober 2022 | 17:59 WIB

 

Oleh Dr Ira Purwitasari,Dosen Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta,Peminat Penerbangan


BISNIS penerbangan nasional memulai lembaran baru di tahun 2022 ini. Kalangan stakeholder baik itu regulator seperti Kementerian Perhubungan , maupun operator segenap maskapaii mengajak semua stakeholder untuk selalu optimis serta melakukan kerja keras dan cerdas untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Sebagai bagian dari pola transportasi nasional, penerbangan merupakan salah satu triger perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Dengan berkembangnya penerbangan, akan menjadi pemacu tumbuh kembangnya perekonomian.
Sudah diakui oleh dunia internasional bahwa penerbangan adalah salah satu pemacu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Penerbangan sebagai salah satu moda transportasi adalah urat nadi perekonomian suatu bangsa. Jika urat nadi tersebut beroperasi maksimal, tubuh juga akan semakin sehat dan berkembang.

Namun demikian, harus disadari dalam dunia penerbangan terdapat siklus-siklus bisnis yang ada di penerbangan. Tentu hal ini diluar badai Covid yang menimpa industri penerbangan kita sejak Covid melanda dunia,tepat Maret 2029 lalu.
Siklus yang rutin menerpa industri penerbangan, antara seperti misalnya adanya musim sepi (low season) dan musim sibuk (peak season). Low season biasanya terjadi di pertengahan januari sampai bulan Febuari. Penumpang didominasi oleh pebisnis dan pekerja, sementara penumpang dengan keperluan "pleasure" atau wisatawan menurun.

Sedangkan peak season biasanya terjadi di tengah tahun, saat liburan sekolah dan akhir tahun saat liburan natal dan tahun baru. Ada juga puncak peak season yang khusus terjadi di Indonesia yaitu libur Lebaran.
Penurunan penumpang, hampir terjadi setiap tahun, memang kondisi low season yang merupakan siklus tahunan yaitu Januari, Februari. Dan Maret baru mengalami peningkatan
Dari data angkutan udara domestik yang dihimpun Ditjen Hubud Agustus 2022, terlihat adanya fluktuasi jumlah penumpang.
Pada periode tahun 2018 bulan Januari jumlah penumpang 6,7 juta, Februari 6,4 juta, Juli 8,7 juta dan Desember 8,4 juta. Tahun 2019 bulan Januari jumlah penumpang 7,7 juta, Februari 6,5 juta, Juli 9,5 juta dan Desember 9,0 juta. Sedangkan tahun 2020 bulan Januari jumlah penumpang 8,3 juta, setelah itu badai covid menimpa kita.
Karena itu, tentunya semua stakeholder diajak untuk optimis memandang bisnis penerbangan tahun ini dan tahun mendatang akan terus tumbuh dan berkembang.
Semua pihak diminta kerja keras dan cerdas dengan saling bersinergi. Dan yang paling penting, harus tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, pelayanan dan patuh terhadap aturan-aturan penerbangan yang berlaku.

Berawal dari 2001
Kebangkitan dunia penerbangan nasional mulai tahun 2000-an setelah lahir maskapai penerbangan Lion Air. Fenomena ini seiring munculnya eta "Low Cost Carrier" di Malaysia yang dipelopori pengusaha besar asal Malaysia Tony Fernandez. Melalui konsep low cost carrier ini, maskapai penerbangan Aur Asia yang dibangun Tony Fernandez menjelma menjadi maskapai raksasa yang menggurita sehingga menguasai dunia penerbangan Asia Tenggara bahkan melebar ke Asia Selatan dan Asia.
Sontak saja,fenomena penerbangan low cost carier ini menjalar ke seluruh Asia,termasuk Indonesia dimana Lion Air tampil sebagai maskapai terdepan karena maskapai ini mampu berkembang lebih besar ketimbang flag carrier Garuda Indonesia.Di Tahun 2001-
an, Lion Air menguasai separuh rute penerbangan di tanah air bahkan di 2010 an melebar ke Asia Tenggara dengan mendirikan Malino di Thailand.
Beberapa maskapai low cost carrier di Asia Tenggara lainnya antara lain Tiger Air,Silk Air Singapura, Cebu Air di Filipina.
Bangkitnya industri penerbangan yang dipelopori oleh murahnya tiket penerbangan tersebut ,menyebabkan lahirnya puluhanrute baru,bandara-bandara baru,sejumlah maskapai baru dan matinya sejumlah moda transportasi seperti bis antar kota (lintas Jawa-Sumatera), angkutan kapal laut ,-Pelni-, dan anjloknya angkutan penempang kereta api jarak jauh seperti kereta api Jakarta-Surabaya.Sementara untuk angkutan kapal laut, akibat low cost carier tersebut, sejumlah rute angkutan kapal laut yang dioperasikan Pelni seperti Jakarta-Jayapura,Jakarta-Makasar,anjlok kalau gak disebut mati suri.
Berjayanya dunia penerbangan nasional tersebut juga menyebabkan semakin pesatnya jumlah bandara baru terutama di beberapa provinsi seperti Maluku Utara,Kepulauan Riau dan Papua.
Data Ditjen Perhubungan Udara waktu itu,tidak kurang 40 bandara baru di tanah air berkembang pesat. Antara lain bandara Tanjung Pinang, Bandara Mamuju,Bandara Ternate, Labuhan Bajo,Biak,Merauke, Silangit,Nias,Karimunjawa, Lampung,Kota baru Kalimantan Selatan,Sintang,Singkawang dan masih ada puluhan bandara lainnya.
Situasi ini menyebabkan puluhan bandara di tanah air mendadak penuh.Bandara Soekarno Hatta umpamanya di tahun 2005-an didatangi puluhan juta penumpang domestik maupun asing.
Empat bandara besar di tanah air yang "meledak bak dinamit" antara lain Bandara Soekarno-Hatta,Bandara Hasanudin (kini Sultan Hasanudin,Makasar), Bandara Juanda Surabaya, Bandara Kuala Namu Medan.
Bandara bandara ini menjelma menjadi bandara besar yang setiap tahun mengangkut puluhan juta penumpang untuk terbang ke berbagai tujuan di tanah air.
Kondisi ini terjadi hingga tahun 2015-an hingga mulai terjadinya penurunan akibat mahalnya avtur,dan bangkitnya lagi sejumlah moda transportasi seperti angkutan bus antar kota,angkutan Pelni yang banyak memberikan variasi layanan dengan didukung oleh pelbagai modifikasi kapal. Serta membaiknya lagi angkutan kereta api terutama setelah dilimlin oleh Ignatius Jonan.
Kini dengan bonus demografi,jumlah penduduk yang mencapai 270 juta didukung oleh 40 an bandara layak operasi,industri penerbangan nasional diharapkan kembali bangkit dan berperan dalam memulihkan perekonomian nasional.***

 

 

 

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamat Milad Maston Lingkar

Sabtu, 26 November 2022 | 13:28 WIB

Peringatan Hari Guru dalam Sastra.

Sabtu, 26 November 2022 | 09:06 WIB

Aku Berbiak di Gadgetmu.

Rabu, 23 November 2022 | 11:06 WIB

Garis-Garis Manis Made Kaek

Jumat, 18 November 2022 | 09:37 WIB

Absolutisme Kebiasaan yang Mematikan.

Sabtu, 12 November 2022 | 09:28 WIB

Sebuah Refleksi: Menelisik Film Indonesia

Minggu, 30 Oktober 2022 | 06:53 WIB

Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
X